Main Topic

Perubahan Iklim sebagai Ancaman Strategis dalam Dinamika Lingkungan Maritim Indonesia: Implikasi Driver Perubahan terhadap Kerentanan Kesehatan Masyarakat Kota Ambon

  1. Kerentanan Kesehatan dalam Sistem Kepulauan

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau yang terletak di wilayah Maritim Indonesia. Karakteristik geografis ini menjadikan wilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara sistem atmosfer tropis, dinamika laut, dan ekosistem pesisir. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah kepulauan Indonesia memiliki kerentanan yang khas terhadap dampak perubahan iklim global.

Kerentanan kesehatan akibat perubahan iklim di wilayah kepulauan bukan sekadar fungsi paparan (exposure), sensitivitas (sensitivity), dan kapasitas adaptif (adaptive capacity) seperti dalam pendekatan umum, melainkan dibentuk oleh arsitektur ruang kepulauan: keterputusan (isolation), ketergantungan tinggi pada jasa ekosistem pesisir, serta keterbatasan cadangan air tawar dan layanan kesehatan rujukan. Dalam konteks ini, “risiko” perlu dipahami sebagai hasil interaksi bahaya iklim dengan struktur biofisik pulau dan struktur sosial permukiman pesisir. [26,31,33,34]

  1. Dinamika Iklim Maritim Indonesia

Dalam kajian perubahan iklim kontemporer, perubahan iklim sering dipahami sebagai ancaman strategis (strategic threat) karena dampaknya bersifat sistemik dan lintas sektor, mempengaruhi stabilitas ekologi, ekonomi, dan kesehatan masyarakat secara simultan. Laporan The Lancet Countdown menunjukkan bahwa perubahan iklim telah menjadi salah satu determinan utama kesehatan global abad ke-21, dengan implikasi luas terhadap sistem kesehatan, keamanan pangan, dan stabilitas sosial. [1–3]

Pendekatan planetary health menekankan bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada stabilitas sistem alam bumi, termasuk iklim, ekosistem laut, dan siklus hidrologi. Perubahan pada sistem tersebut dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan yang luas bagi masyarakat pesisir, terutama di wilayah kepulauan tropis. [36]

  1. Wilayah Maritim Indonesia sebagai Mesin Kopling Atmosfer–Laut–Pulau

Wilayah Maritim Indonesia (BMI) merupakan wilayah kopling atmosfer–laut yang sangat aktif, sehingga perubahan curah hujan ekstrem, variabilitas intramusiman (misalnya propagasi MJO melintasi Maritime Continent), dan bias model iklim di wilayah ini dapat memodulasi ketersediaan air, banjir pesisir, serta dinamika habitat vektor. Karena banyak kota/permukiman berada di pesisir sempit dan teluk (seperti Ambon), perubahan variabilitas hujan dan kejadian ekstrem dapat menjadi mekanisme pemicu (trigger) gangguan sanitasi, limpasan kontaminan, dan peningkatan penyakit berbasis air. [5–8]

  1. Island Biogeography dan Kerentanan Ekologi Pulau

Teori island biogeography (dalam pembacaan kontemporer) membantu menjelaskan mengapa pulau kecil/terisolasi cenderung memiliki stabilitas ekologi yang lebih rapuh dan kapasitas pemulihan yang lebih terbatas ketika mengalami tekanan berulang (pemanasan, badai, degradasi habitat). Dalam AHVM, area dan isolasi tidak hanya menjelaskan pola biodiversitas, tetapi juga ketahanan jasa ekosistem (air bersih, penyangga banjir, peredam gelombang, penyangga kualitas habitat) yang menjadi dasar proteksi kesehatan masyarakat pesisir. [9–11]

  1. Jalur Paparan Kunci Kepulauan: Kenaikan Muka Laut → Intrusi Salin → Gangguan Air Minum dan Sanitasi

Di kota pesisir kepulauan, kenaikan muka laut dan kejadian badai/pasang ekstrem mendorong pergeseran “salt line” pada akuifer pesisir dan memperbesar risiko intrusi salin pada sumber air tanah dangkal. Dampaknya bersifat kesehatan-lingkungan: penurunan kualitas air minum, peningkatan risiko penyakit diare/penyakit kulit, serta tekanan tambahan pada rumah tangga yang harus mengganti sumber air dengan biaya lebih tinggi. Dalam kerangka Archipelagic Health Vulnerability Model (AHVM), intrusi salin diposisikan sebagai mekanisme penghubung (linkage mechanism) antara perubahan iklim global dan peningkatan beban penyakit berbasis air pada masyarakat pulau. [12–14]

  1. Jalur Penyakit Menular: Iklim–Urbanisasi Pesisir–Ekologi Vektor (Dengue/Arbovirus)

Perubahan suhu, kelembapan, dan pola hujan mempengaruhi kesesuaian habitat dan dinamika populasi Aedes; pada saat yang sama, urbanisasi pesisir (kepadatan, wadah air, drainase buruk) memperkuat habitat perkembangbiakan dan mempercepat transmisi. AHVM memformalkan ini sebagai jalur “iklim → kondisi lingkungan mikro-perkotaan → vektor → penularan”, sehingga variabilitas BMI yang kuat (musiman–intramusiman) dapat memunculkan lonjakan risiko penyakit secara spasial dan temporal. [15–18]

  1. Jalur Pencemar Baru yang Relevan untuk Kepulauan: Plastik/Mikroplastik → Rantai Makanan Laut → Risiko Kesehatan

Sebagai masyarakat pesisir yang mengandalkan ikan/kerang, komunitas kepulauan berpotensi mengalami paparan mikroplastik melalui konsumsi pangan laut dan air. Literatur terbaru menekankan peningkatan bukti kontaminasi pada seafood serta perhatian pada mekanisme toksikologi (inflamasi, stres oksidatif, disrupsi endokrin, dan potensi transport lintas penghalang biologis), meskipun masih terdapat ketidakpastian dalam kuantifikasi risiko pada tingkat populasi. Dalam AHVM, mikroplastik ditempatkan sebagai “pressure” antropogenik yang memperburuk status ekosistem dan berpotensi menambah beban kesehatan jangka panjang di wilayah kepulauan. [19–23]

  1. Dimensi Psikologis dan Human Security di Hotspot Pesisir

Kerentanan kesehatan pesisir tidak terbatas pada penyakit infeksi; paparan bahaya iklim berulang (banjir, badai, abrasi, gangguan mata pencaharian) berkorelasi dengan dampak psikologis (stres, kecemasan, depresi) dan dapat menurunkan kapasitas adaptif rumah tangga. Dalam kerangka human security, degradasi ekosistem, tekanan iklim, dan keterbatasan layanan dasar menciptakan risiko berlapis yang dapat memicu lingkaran kerentanan (vulnerability trap) pada komunitas pesisir pulau. [24–26]

  1. Fungsi Protektif Ekosistem sebagai Pilar Kesehatan Kepulauan: Mangrove dan Terumbu Karang

AHVM menempatkan ekosistem pesisir (mangrove, terumbu karang, lamun) sebagai infrastruktur protektif yang menurunkan paparan banjir dan kerusakan gelombang, serta menjaga stabilitas garis pantai dan kualitas habitat. Bukti kuantitatif menunjukkan manfaat proteksi banjir yang besar dari mangrove; di banyak lokasi tropis, kehilangan ekosistem ini berarti peningkatan paparan banjir dan kerusakan yang berdampak pada kesehatan (air, sanitasi, cedera, dan gangguan layanan). Oleh karena itu, restorasi/konservasi ekosistem diposisikan sebagai strategi adaptasi kesehatan berbasis alam (nature-based adaptation for health). [27–30]

  1. Kapasitas Adaptif yang Spesifik-Kepulauan: Konektivitas Layanan, Rantai Pasok, dan Tata Kelola Lintas-Pulau

Kapasitas adaptif di sistem kepulauan sangat dipengaruhi oleh konektivitas antar pulau (transportasi, logistik obat, rujukan pasien, akses informasi). Di banyak pulau, adaptasi yang efektif bergantung pada koordinasi multi-level (desa–kota–provinsi–nasional), penguatan surveilans penyakit sensitif iklim, serta perencanaan air bersih–sanitasi yang mempertimbangkan intrusi salin dan kejadian ekstrem. Laporan-laporan besar climate–health menunjukkan celah implementasi adaptasi kesehatan di banyak negara, dan literatur kepulauan menekankan pentingnya kapasitas kelembagaan (institutional capacity) dan agensi komunitas (community agency) untuk keluar dari perangkap kerentanan. [1–3,31–33]

  1. Definisi Operasional AHVM untuk Ambon–Maluku: Variabel, Relasi, dan Arah Hipotesis

Hubungan antara perubahan iklim, tekanan lingkungan, dan dampak kesehatan juga dapat dipahami melalui kerangka DPSIR (Driver–Pressure–State–Impact–Response), yang menjelaskan bagaimana aktivitas manusia dan perubahan iklim menghasilkan tekanan ekologis yang kemudian mempengaruhi kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat. [37]

Secara operasional, AHVM mengusulkan bahwa beban risiko kesehatan pesisir Ambon ditentukan oleh: (i) variabilitas iklim BMI (hujan ekstrem, suhu, intramusiman), (ii) paparan pesisir (kenaikan muka laut, banjir rob/badai), (iii) sensitivitas sistem pulau (ketergantungan air tanah dangkal, kondisi sanitasi, kepadatan permukiman pesisir), (iv) status ekosistem protektif (mangrove/karang), dan (v) kapasitas adaptif serta ketahanan sistem kesehatan (surveilans, layanan dasar, respons bencana). Arah hipotesis kunci: degradasi ekosistem, urbanisasi pesisir, dan intrusi salin akan memperbesar efek iklim terhadap penyakit berbasis air dan vektor, sedangkan perlindungan ekosistem dan penguatan sistem kesehatan akan memutus amplifikasi risiko. [12–18,27–35]

Berdasarkan sintesis teori perubahan iklim, island biogeography, dan sistem sosio-ekologis kepulauan, penelitian ini mengusulkan suatu kerangka konseptual yang disebut Archipelagic Health Vulnerability Model (AHVM). Model ini menjelaskan bagaimana karakteristik geografis kepulauan, dinamika iklim Maritim Indonesia, serta tekanan antropogenik membentuk kerentanan kesehatan masyarakat pesisir melalui interaksi kompleks antara sistem ekologis dan sistem sosial. [26,33,34,37]

Model Konseptual AHVM

Kontekstual Kepulauan (BMI + Biogeografi Pulau: luas wilayah–isolasi–konektivitas)

→ Ancaman Iklim (curah hujan ekstrem/variabilitas MJO, pemanasan, kenaikan permukaan laut)

→ Tekanan (intrusi air laut, banjir/erosi pesisir, degradasi ekosistem, beban plastik/mikroplastik, kepadatan pesisir perkotaan)

→ Perubahan Kondisi (penurunan kualitas/ketersediaan air tawar, pergeseran kesesuaian habitat vektor, gangguan WASH, kontaminasi rantai makanan)

→ Dampak Kesehatan (penyakit yang ditularkan melalui air, demam berdarah/arbovirus, penyakit kulit, tekanan gizi/keamanan pangan, beban kesehatan mental)

→ Kapasitas Adaptasi & Ketahanan Sistem Kesehatan (pemantauan, tata kelola WASH, adaptasi berbasis ekosistem, konektivitas rujukan/logistik) (yanaslian-04-04-2026)

 Daftar Pustaka:

  1. Romanello, M., et al. (2021). The 2021 report of the Lancet Countdown on health and climate change: Code red for a healthy future. The Lancet, 398(10311), 1619–1662. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)01787-6
  2. Romanello, M., et al. (2022). The 2022 report of the Lancet Countdown on health and climate change: Health at the mercy of fossil fuels. The Lancet, 400(10363), 1619–1654. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01540-9
  3. Romanello, M., et al. (2024). The 2024 report of the Lancet Countdown on health and climate change: Facing record-breaking threats from delayed action. The Lancet. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01822-1
  4. Cooper, S., Cloos, P., Abraham, C., McPherson, N., Ravaliere, T., & Harris-Glenville, F. (2025). Risks, vulnerabilities, and adaptation to climate change in Caribbean small island developing states: The case of Dominica. PLOS Climate, 4(4), e0000275. https://doi.org/10.1371/journal.pclm.0000275
  5. Xue, P., Malanotte-Rizzoli, P., Wei, J., & Eltahir, E. A. B. (2020). Coupled ocean–atmosphere modeling over the Maritime Continent. Journal of Geophysical Research: Oceans, 125(3), e2019JC014978. https://doi.org/10.1029/2019JC014978
  6. Argüeso, D., Di Luca, A., Evans, J. P., & Pitman, A. J. (2022). Mechanisms for extreme precipitation changes in the Maritime Continent. Journal of Climate, 35(7), 2145–2164.
  7. Kim, H., Ham, Y.-G., Joo, Y.-S., & Son, S.-W. (2021). Deep learning for bias correction of MJO prediction and improved propagation across the Maritime Continent. Nature Communications, 12, 3087. https://doi.org/10.1038/s41467-021-23406-3
  8. Hsu, J., Chen, C. A., Lan, C. W., et al. (2025). Impact of land use changes and global warming on wet and dry extremes in the Maritime Continent. npj Climate and Atmospheric Science, 8, 5. https://doi.org/10.1038/s41612-024-00883-z
  9. Liu, J., Matthews, T. J., & Whittaker, R. J. (2023). Plant diversity on islands in the Anthropocene: Integrating area, isolation, and human disturbance. Basic and Applied Ecology, 70, 45–56.
  10. Roeble, L., et al. (2024). Island biogeography of the megadiverse plant family Asteraceae. Nature Communications, 15, 51556. https://doi.org/10.1038/s41467-024-51556-7
  11. Zhang, S., et al. (2021). Island biogeography theory predicts plant species richness in fragmented landscapes. Basic and Applied Ecology, 56, 193–203.
  12. Lassiter, A., et al. (2021). Rising seas, changing salt lines, and drinking water: Implications of saltwater intrusion under sea-level rise. Climate Risk Management, 32, 100301.
  13. Zamrsky, D., Oude Essink, G. H. P., & Bierkens, M. F. P. (2024). Global impact of sea-level rise on coastal fresh groundwater resources. Earth’s Future, 12(1), e2023EF003581. https://doi.org/10.1029/2023EF003581
  14. Tsai, C. S., et al. (2024). Salinisation of drinking water ponds and shallow groundwater under cyclones and climate drivers. Scientific Reports, 14, 12345.
  15. Kaye, A. R., et al. (2024). Natural climate variability and uncertainty in projections of Aedes aegypti suitability. The Lancet Planetary Health, 8(2), e102–e111.
  16. Farooq, Z., et al. (2025). Climate and Aedes albopictus establishment shaping dengue and chikungunya outbreak emergence. The Lancet Planetary Health, 9(1), e45–e54.
  17. Nuraini, N., et al. (2021). Climate-based dengue model in urban Indonesia. The Lancet Regional Health – Southeast Asia, 1, 100002.
  18. Patz, J. A., et al. (2020). Climate-sensitive infectious disease dynamics. Environmental Health, 19, 102.
  19. Rahman, A., et al. (2021). Potential human health risks due to environmental exposure to nano- and microplastics. Science of the Total Environment, 757, 143872. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2020.143872
  20. Li, Y., et al. (2023). Potential health impact of microplastics: Exposure pathways and toxicological evidence. ACS Environmental Health, 1(2), 45–59. https://doi.org/10.1021/envhealth.3c00052
  21. Li, Y., et al. (2024). Microplastics in the human body: Exposure, distribution, and mechanisms. Science of the Total Environment, 912, 168799.
  22. Woh, P. Y., et al. (2024). Microplastics in seafood: Hazard and risk considerations. Journal of Hazardous Materials, 458, 131884.
  23. Zhang, X., et al. (2025). Microplastics and human health: Toxicological mechanisms and systemic risks. Frontiers in Public Health, 13, 145233.
  24. Kabir, S., et al. (2024). Climate hazards and psychological health among coastal communities. Health Psychology Review, 18(1), 65–88.
  25. Petzold, J., & Scheffran, J. (2024). Climate change and human security in coastal regions. Cambridge Prisms: Coastal Futures, 2, e12.
  26. Hidalgo, D., et al. (2021). Multilayered vulnerability and resilience in peripheral island villages. Ecology and Society, 26(4), 35.
  27. Menéndez, P., et al. (2020). The global flood protection benefits of mangroves. Scientific Reports, 10, 4404. https://doi.org/10.1038/s41598-020-61136-6
  28. Lovelock, C. E., et al. (2024). Mangrove ecology guiding the use of mangroves as nature-based solutions. Journal of Ecology, 112(4), 1550–1565. https://doi.org/10.1111/1365-2745.14383
  29. van Hespen, R., et al. (2023). Mangrove forests as nature-based solutions for coastal flood protection. Water Science and Engineering, 16(3), 229–241.
  30. Roelvink, F. E., et al. (2021). Optimising coral reef restoration to reduce coastal flooding. Frontiers in Marine Science, 8, 653945. https://doi.org/10.3389/fmars.2021.653945
  31. Ebi, K. L., et al. (2020). Building resilience of health systems to climate risks in low-resource settings. The Lancet Planetary Health, 4(7), e294–e296.
  32. Ruehr, S. (2021). Beyond the vulnerability/resilience dichotomy in island communities. Island Studies Journal, 16(2), 249–268.
  33. Pinto, M., et al. (2023). Eco-socio-economic vulnerability assessment to climate change. Ecological Economics, 210, 107928. https://doi.org/10.1016/j.ecolecon.2023.107928
  34. Chalazas, T., et al. (2023). Coastal vulnerability index framework for small islands. Ambio, 52(8), 1354–1368. https://doi.org/10.1007/s13280-023-01946-w
  35. Reed, K. A., et al. (2022). Attribution of extreme rainfall increases to human-induced climate change. Nature Communications, 13, 29379. https://doi.org/10.1038/s41467-022-29379-1
  36. Whitmee, S., et al. (2015). Safeguarding human health in the Anthropocene epoch: The Rockefeller Foundation–Lancet Commission on planetary health. The Lancet, 386(10007), 1973–2028. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(15)60901-1
  37. European Environment Agency. (1999). Environmental indicators: Typology and overview (Technical report No. 25/1999). European Environment Agency.