Global Health, Health Systems, Public Health

Dari Jamban ke Sanitasi Aman: Tantangan 2026–2027

Selama 20 tahun terakhir, Indonesia memang mencatat kemajuan dalam sanitasi. Akses jamban meningkat, dan praktik buang air besar sembarangan menurun. Itu patut diapresiasi.

Tapi persoalannya tidak berhenti di situ: punya jamban belum tentu punya sanitasi yang aman.

Kita bisa saja terlihat berhasil di atas kertas, tetapi masih tertinggal dalam melindungi kesehatan masyarakat. Sebab sanitasi yang berkualitas bukan hanya soal bangunan toilet, melainkan soal bagaimana limbah dikelola dengan aman, tidak mencemari air, dan tidak menjadi sumber penyakit.

Karena itu, 2026 harus menjadi tahun pembenahan dasar: menuntaskan rumah tangga yang belum memiliki jamban, mempercepat desa bebas buang air besar sembarangan, memperbaiki standar tangki septik, serta memastikan layanan penyedotan dan pengolahan lumpur tinja berjalan dengan baik.

Lalu, 2027 harus menjadi tahun percepatan mutu: memperluas sanitasi aman, memperkuat peran pemerintah daerah, dan memastikan ukuran keberhasilan tidak lagi berhenti pada cakupan, tetapi pada perlindungan kesehatan dan keselamatan lingkungan.

Kita tidak bisa lagi puas dengan angka infrastruktur semata. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan berapa banyak jamban yang dibangun, tetapi berapa banyak keluarga yang benar-benar terlindungi.

Jadi, pertanyaan besar untuk 2026 dan 2027 bukan lagi: sudah berapa banyak jamban tersedia?
Tetapi: sudah berapa banyak masyarakat yang benar-benar menikmati sanitasi aman?

References: UN SDG Data (Indonesia Country Profile); WHO/UNICEF JMP Indonesia; WHO Indonesia (2025) on sanitation safety planning; UNICEF–Government of Indonesia PPSP Evaluation 2009–2024; Rencana Teknokratik Peta Jalan Sanitasi Aman Indonesia.