Main Topic

Kajian Filsafat Ilmu Atas Dampak Perubahan Iklim Terhadap Insidensi Penyakit Menular Dan Strategi Adaptasi Dinas Kesehatan Kota Ambon

  1. Pendahuluan

Perubahan iklim global diakui sebagai salah satu ancaman utama bagi kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan, kelembapan, dan frekuensi kejadian iklim ekstrem memengaruhi ekologi vektor, dinamika patogen, serta kerentanan manusia. Akibatnya, insidensi penyakit menular berbasis vektor, air, dan udara berpotensi meningkat. Di Kota Ambon, kota pesisir dengan iklim maritim dan kerentanan terhadap bencana hidrometeorologis, risiko ini menjadi semakin kompleks.

Dinas Kesehatan Kota Ambon memegang peran penting dalam surveilans, pencegahan, penanggulangan penyakit, dan advokasi kebijakan terkait dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Oleh karena itu, penelitian berjudul “Kajian Dampak Perubahan Iklim terhadap Peningkatan Insidensi Penyakit Menular dan Strategi Adaptasi Dinas Kesehatan Kota Ambon” perlu ditopang landasan filsafat ilmu yang jelas, bukan hanya analisis teknis.

Dalam kerangka kuliah Prof. Eymal, hubungan antara filsafat (knowledge) dan ilmu lingkungan (science) dijembatani oleh tiga pilar utama: ontologi, epistemologi, dan aksiologi, yang dioperasionalkan melalui metode ilmiah. Ilmu lingkungan akan kokoh bila tiga pilar ini eksplisit: 1) Ontologinya: apa realitas yang dikaji; 2) Epistemologinya: bagaimana realitas itu diketahui; 3) Aksiologinya: untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Penelitian dampak perubahan iklim dan penyakit menular di Ambon, karenanya, harus dipahami sebagai kajian filsafat ilmu lingkungan, bukan sekadar studi epidemiologi deskriptif.

  1. Kerangka Filsafat Ilmu Lingkungan Prof. Eymal dan Relevansinya

Menurut Prof. Eymal, filsafat adalah upaya kritis dan radikal untuk mempertanyakan jawaban, berangkat dari keraguan dan rasa ingin tahu. Dalam konteks penelitian ini, kegelisahan ilmiah muncul dari pertanyaan: 1) Seberapa jauh perubahan iklim memengaruhi insidensi penyakit menular di Ambon? 2) Bagaimana Dinas Kesehatan dapat beradaptasi secara efektif dan adil?

Dikaitkan dengan penelitian ini, objek material: perubahan iklim (suhu, hujan, kelembapan), vektor dan patogen, manusia sebagai host, sistem kesehatan, serta masyarakat Kota Ambon dan objek forma: cara penelitian memandang realitas tersebut dalam perspektif ontologi (hakikatnya), epistemologi (cara mengetahuinya), dan aksiologi (nilai dan kegunaannya).

Prof. Eymal juga memperkenalkan filsafat ilmu lingkungan sebagai filsafat khusus yang mengkaji kehidupan melalui tiga komponen A–B–C (Bastedo): A (Abiotic): unsur fisik–kimia lingkungan; B (Biotic): makhluk hidup; C (Culture): sistem sosial, ekonomi, budaya, dan tata kelola.

Dalam konteks penelitian ini: A (Abiotik): parameter iklim (suhu, curah hujan, kelembapan, kejadian ekstrem) dan kondisi fisik lingkungan Ambon; B (Biotik): vektor (nyamuk, lalat, rodensia), patogen (virus, bakteri, parasit), dan manusia sebagai host yang rentan; dan C (Culture): struktur sosial–ekonomi–budaya, kebijakan dan tata kelola Dinas Kesehatan, serta perilaku masyarakat (PHBS, mobilitas, pengelolaan lingkungan).

Penelitian ini pada dasarnya adalah kajian relasi A–B–C di bawah tekanan perubahan iklim yang kemudian diterjemahkan menjadi strategi adaptasi dalam kebijakan dan program kesehatan di Kota Ambon.

  1. Dimensi Ontologis: Hakikat Perubahan Iklim, Penyakit Menular, dan Sistem Kesehatan

3.1. Ontologi sebagai Kajian Hakikat Realitas

Dalam SERI KETIGA, Prof. Eymal merujuk kepada Kattsoff yang membedakan antara penampakan (fenomena) dan kenyataan sesungguhnya (realitas). Ontologi bertanya: apa yang sesungguhnya nyata?

Realitas dapat dilihat dari dua aspek: 1) Eksistensi: yang menempati ruang dan waktu; 2) Esensi: makna atau konsep yang bersifat mental.

Dalam penelitian ini: Eksistensi: data suhu, curah hujan, angka kejadian DBD/diare/penyakit lainnya, catatan surveilans, serta keberadaan vektor di lapangan; dan Esensi: makna perubahan iklim bagi kesehatan masyarakat Ambon, konsep “kerentanan”, “ketahanan sistem kesehatan”, dan “keadilan iklim”.

Berbagai mazhab ontologis (monisme, dualisme, pluralisme, materialisme, realisme, idealisme) menawarkan cara memandang realitas. Posisi implisit penelitian ini:

  1. Realisme, perubahan iklim, penyakit menular, dan data epidemiologi dianggap realitas objektif yang eksis independen dari peneliti. Variabel iklim dan insidensi penyakit di Ambon bukan sekadar konstruksi, tetapi kenyataan yang dapat diukur.
  2. Materialisme moderat: proses biologis (siklus hidup vektor, replikasi patogen) merupakan realitas material yang memengaruhi kesehatan dan harus diakui dalam analisis.
  3. Pluralisme integratif: realitas tidak hanya material, tetapi juga sosial, budaya, dan spiritual. Sistem kepercayaan masyarakat, kebijakan Dinas Kesehatan, dan nilai agama adalah bagian dari realitas yang memengaruhi respons terhadap perubahan iklim. Pendekatan ini sejalan dengan ajakan Prof. Eymal untuk memilih mazhab ontologi secara konsisten, namun tetap membuka ruang rekonsiliasi integratif.

Dengan kerangka A–B–C, ontologi penelitian dapat dirangkum: Ontologi abiotik: perubahan iklim sebagai realitas fisik yang dapat dimodelkan dan diprediksi. Ontologi biotik: respons ekologi vektor dan patogen terhadap perubahan iklim. Ontologi kultur: institusi kesehatan dan perilaku masyarakat sebagai realitas sosial yang membentuk kerentanan maupun kapasitas adaptasi.

Secara teologis, Prof. Eymal menekankan bahwa filsafat tidak berhenti pada ranah imanen (hukum alam/sunnatullah), tetapi juga menyentuh ranah transendental (hubungan manusia dengan Tuhan). Dalam penelitian ini, perubahan iklim dan penyakit menular dapat dipahami sebagai tantangan atas amanah manusia untuk menjaga bumi dan kehidupan. Dengan demikian, strategi adaptasi Dinas Kesehatan memiliki dimensi moral dan spiritual, tidak semata-mata teknis administratif.

3.2. Implikasi Ontologis bagi Rumusan Masalah

Posisi ontologis tersebut berimplikasi pada rumusan penelitian sebagai berikut: 1) Realitas yang dikaji multi-lapis: fisik (iklim dan penyakit), biologis (vektor/patogen), sosial–institusional (Dinas Kesehatan dan masyarakat), serta normatif–transendental (keadilan dan tanggung jawab moral). 2) Perubahan iklim dipahami sebagai proses struktural jangka panjang, bukan peristiwa sesaat. Oleh karena itu, analisis tren data jangka panjang menjadi penting. 3) Penyakit menular tidak hanya dipandang sebagai entitas biologis, tetapi juga sebagai gejala ketidakseimbangan sistem lingkungan dan sistem sosial (tata kelola kesehatan). 4) Dinas Kesehatan Kota Ambon diposisikan sebagai aktor ontologis kunci dalam domain culture (C) yang kapasitas adaptasinya ikut menentukan realitas kejadian penyakit di masyarakat.

  1. Dimensi Epistemologis: Cara Memperoleh dan Menguji Pengetahuan

4.1. Epistemologi sebagai Teori Pengetahuan

SERI KEEMPAT mendefinisikan epistemologi sebagai teori pengetahuan yang membahas sumber pengetahuan, cara memperolehnya, alat yang digunakan, dan validitas kebenaran. Fungsi utamanya: mengubah pengetahuan awal (knowledge) menjadi ilmu pengetahuan (science) melalui metode ilmiah.

Dalam penelitian ini, pengetahuan awal dan keyakinan umum bahwa “perubahan iklim meningkatkan penyakit menular” dan ilmu pengetahuan menuntut pembuktian bagaimana dan mengapa perubahan iklim memengaruhi insidensi penyakit di Ambon, dengan data yang bisa diuji ulang.

4.2. Sumber Pengetahuan: Empirisme, Rasionalisme, Intuisionisme

Aliran epistemologi yang relevan:

  1. Empirisme: pengetahuan bersumber dari pengalaman indrawi: data iklim, catatan kasus, survei lingkungan, observasi lapangan. Hal ini mendasari penggunaan metode kuantitatif seperti analisis deret waktu dan regresi.
  2. Rasionalisme: nalar menyusun model hubungan perubahan iklim–vektor–penyakit–respons institusional. Data empiris diolah melalui penalaran deduktif dan induktif untuk membangun teori.
  3. Positivisme menuntut pengukuran yang jelas melalui statistik dan matematika. Dalam penelitian ini, tampak pada uji korelasi dan pemodelan hubungan antara variabel iklim dan insidensi penyakit.
  4. Intuisionisme/kecerdasan spiritual dalam merancang strategi adaptasi, pengalaman praktis, kearifan lokal, dan intuisi para pengambil kebijakan berperan penting. Intuisi dipandang sebagai “insting tersadarkan” yang membantu menangkap makna di balik data.
  5. Skeptisisme metodis, sikap ragu digunakan sebagai alat uji: apakah kenaikan kasus semata akibat iklim, atau juga akibat urbanisasi, perubahan perilaku, atau mutu surveilans? Sikap ini mencegah kesimpulan yang tergesa-gesa.

Kerangka wahyu–filsafat–sains yang diajukan Prof. Eymal berbasis pada integrasi: literatur ilmiah (sains), analisis kritis (filsafat), dan nilai religius (wahyu). Penelitian ini dapat memanfaatkan ketiganya untuk merumuskan strategi adaptasi yang ilmiah sekaligus manusiawi.

4.3. Metode Ilmiah, Penalaran, dan Teori Kebenaran

Logika menjadi instrumen penting dalam penelitian: penalaran deduktif dari teori umum ke kasus Ambon (misalnya, teori epidemiologi vektor → hipotesis hubungan suhu dengan kasus DBD). Penalaran induktif: dari pola data tahunan ke generalisasi tentang pengaruh banjir terhadap penyakit berbasis air, dan penalaran abduktif: menyusun penjelasan paling mungkin ketika data tidak sepenuhnya cocok dengan teori (misalnya, lonjakan kasus tanpa peningkatan curah hujan).

Empat teori kebenaran diterapkan dalam pengujian hasil: 1) Korespondensi: temuan sesuai dengan fakta lapangan (peta sebaran kasus serasi dengan wilayah yang mengalami perubahan iklim signifikan). 2) Koherensi: hasil tidak bertentangan dengan teori epidemiologi, ilmu iklim, dan literatur kesehatan lingkungan. 3) Pragmatis: rekomendasi adaptasi dinilai benar sejauh efektif menurunkan insidensi atau meningkatkan kesiapsiagaan. 4) Konsensus: kebijakan adaptasi yang diterima Dinas Kesehatan, pemerintah, akademisi, dan masyarakat mencerminkan kebenaran dalam kerangka diskursus partisipatif.

  1. Dimensi Aksiologis: Nilai, Etika, dan Kebermaknaan Penelitian

5.1. Aksiologi dan Objektivisme–Subjektivisme

SERI KELIMA memposisikan aksiologi sebagai ilmu tentang nilai: apa yang baik, layak, dan berharga. Pertanyaan utama: untuk apa pengetahuan ini dihasilkan, dan nilai apa yang ingin diwujudkan bagi masyarakat Ambon?

Duposisi utama: 1) Objektivisme aksiologis, nilai melekat pada objek. Perlindungan jiwa dan kelestarian lingkungan adalah nilai baik pada dirinya, sehingga upaya menurunkan insidensi penyakit menular akibat perubahan iklim dipandang bernilai secara objektif, terlepas dari penilaian individu; 2) Subjektivisme aksiologis: Nilai ditentukan oleh pengalaman dan kebutuhan manusia. Bagi masyarakat Ambon, program air bersih, sanitasi, dan akses layanan mungkin dirasakan lebih bermakna dibandingkan dengan konsep adaptasi yang abstrak.

Penelitian perlu memadukan keduanya: objektif: berorientasi pada perlindungan kehidupan dan keadilan; subjektif: mempertimbangkan persepsi dan kebutuhan nyata masyarakat.

5.2. Etika Kesehatan dan Keadilan Iklim

Sebagai bagian dari aksiologi, etika membahas baik-buruk tindakan. Prof. Eymal menyoroti utilitarianisme dan pragmatisme, yang menilai tindakan dari manfaat dan fungsinya.

Dalam penelitian ini, pendekatan utilitarian mendorong strategi adaptasi yang memaksimalkan manfaat kesehatan bagi sebanyak mungkin warga, misalnya memprioritaskan wilayah paling padat dan rentan; dan pendekatan pragmatis menekankan kebijakan yang benar-benar dapat diterapkan; program sederhana namun efektif lebih bernilai daripada skema kompleks yang tidak berjalan.

Isu perubahan iklim dan penyakit menular juga terkait keadilan iklim dan keadilan kesehatan. Kelompok miskin dan masyarakat pesisir kerap paling terdampak, namun paling sedikit berkontribusi terhadap emisi. Karena itu, strategi adaptasi Dinas Kesehatan perlu menjunjung keadilan distributif: alokasi sumber daya pencegahan dan pelayanan kesehatan berdasarkan tingkat kerentanan. Non-maleficence dan beneficence: menghindari dampak negatif baru (misalnya pencemaran insektisida) dan memaksimalkan manfaat. Partisipasi bermakna: melibatkan masyarakat dan tenaga kesehatan lini depan dalam perencanaan.

5.3. Estetika dan Keindahan Lingkungan Sehat

Estetika tidak hanya menyangkut seni, tetapi juga keindahan moral dan keindahan intelektual. Dalam konteks ini, keindahan moral tampak ketika Dinas Kesehatan melaksanakan adaptasi secara jujur, transparan, dan berpihak pada kelompok rentan. Keindahan intelektual tampak pada model konseptual yang elegan yang menjelaskan hubungan kompleks antara perubahan iklim, penyakit, dan kebijakan. Keindahan lingkungan tampak pada permukiman yang bersih, hijau, dan bebas genangan sebagai hasil nyata kebijakan adaptasi.

Dengan dimensi ini, penelitian tidak hanya mengejar perbaikan angka, tetapi juga peningkatan kualitas hidup dan martabat masyarakat Ambon.

  1. Integrasi Ontologi–Epistemologi–Aksiologi dalam Desain Penelitian

Mengacu pada SERI PERTAMA dan SERI KEDUA, setiap disertasi ilmu lingkungan harus mengintegrasikan tiga pilar filsafat ilmu dalam satu kesatuan yang koheren. Untuk penelitian ini, integrasinya dapat diringkas:

  • Ontologi, Realitas: relasi perubahan iklim (A), dinamika vektor/patogen dan penyakit menular (B), serta sistem sosial–kebijakan Dinas Kesehatan dan masyarakat Ambon (C). Mazhab: realisme–materialisme untuk aspek fisik/biologis; pluralisme integratif untuk aspek sosial–budaya dan spiritual.
  • Epistemologi, sumber pengetahuan: empirisme (data iklim & epidemiologi), rasionalisme (model konseptual & analisis), intuisionisme (kearifan lokal & pengalaman praktis), dan refleksi normatif berbasis wahyu. Metode: mixed-methods—analisis kuantitatif (positivistik/post-positivistik) dan kajian kualitatif (konstruktivistik–pragmatis) atas kebijakan serta persepsi adaptasi. Teori kebenaran: korespondensi, koherensi, pragmatis, dan konsensus.
  • Aksiologi, orientasi nilai: perlindungan jiwa, keadilan kesehatan dan iklim, keberlanjutan lingkungan, penghargaan terhadap kearifan lokal dan nilai keagamaan. Prinsip etis: utilitarianisme dan pragmatisme, disertai penghormatan terhadap hak asasi dan partisipasi masyarakat. Keluaran: rekomendasi strategi adaptasi Dinas Kesehatan yang sahih secara ilmiah, layak secara moral, dan dapat diterima secara sosial.

Kerangka ini sejalan dengan pendekatan multi/inter/transdisipliner Prof. Eymal, di mana wahyu, filsafat, dan sains berinteraksi dalam memahami dan mengelola realitas kehidupan.

  1. Penutup

Bahan kuliah Prof. Eymal seri pertama hingga kelima memberikan fondasi kokoh bagi penelitian “Kajian Dampak Perubahan Iklim terhadap Peningkatan Insidensi Penyakit Menular dan Strategi Adaptasi Dinas Kesehatan Kota Ambon” sebagai karya ilmiah yang filosofis, empiris, dan praksis.

Dari sisi ontologi, penelitian memandang perubahan iklim, penyakit menular, dan sistem kesehatan Ambon sebagai realitas multi-lapis yang dianalisis dengan kerangka A–B–C. Dari sisi epistemologi, penelitian menggabungkan empirisme, rasionalisme, positivisme, intuisionisme, dan skeptisisme metodis untuk membangun pengetahuan yang sahih tentang hubungan perubahan iklim–penyakit dan efektivitas adaptasi. Dari sisi aksiologi, penelitian berorientasi pada perlindungan jiwa, keadilan, dan keberlanjutan, sambil menjunjung etika kesehatan, keadilan iklim, dan partisipasi masyarakat.

Dengan landasan filsafat ilmu lingkungan ini, proposal dan disertasi diharapkan memberi kontribusi penting bagi pengembangan ilmu lingkungan, epidemiologi, dan kebijakan kesehatan publik, khususnya di kota-kota pesisir Indonesia yang rentan, seperti Kota Ambon.