Maluku dan Tantangan Climate Change: Menjaga Kesehatan di Wilayah Kepulauan

Provinsi Maluku dengan luas wilayah 712.479,69 km² merupakan wilayah kepulauan yang memiliki karakteristik geografis yang unik dan kompleks. Dari total wilayah tersebut, 93,52 persen adalah perairan dan hanya 6,48 persen adalah daratan. Sejalan dengan itu, jumlah penduduk Provinsi Maluku mencapai 1.920.462 jiwa dan tersebar di 1.388 pulau. Panjang garis pantai Provinsi Maluku adalah 10.914,67 kilometer. Itu berarti Maluku sangat rentan terhadap climate change karena tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berimplikasi langsung pada kesehatan masyarakat.
Vignette climate change bukanlah isu lingkungan global lagi. Itu adalah masalah kesehatan publik yang sangat nyata, terutama bagi wilayah kepulauan.
Di wilayah kepulauan, satu hari cuaca ekstrem dapat berarti satu hari pasien tidak bisa merujuk, satu hari distribusi obat ditunda, hingga satu hari sistem kesehatan berhenti.
Climate Change dan Ancaman Penyakit Sensitif Iklim.
Perubahan pola hujan, kenaikan suhu, dan cuaca ekstrem, secara bersama-sama, mengarah pada peningkatan risiko penyakit menular sensitif iklim: HIV, TBC, dan malaria.
Hingga 2025, data menunjukkan 9.955 kasus HIV/AIDS secara kumulatif. Januari – November 2025, terdapat 5.168 kasus TBC yang terkonfirmasi. Hingga Oktober 2025, terdapat 2.792 kasus positif malaria. Maluku Tenggara, Kepulauan Tanimbar, dan Kepulauan Aru adalah beberapa kabupaten di mana jumlah malaria masih relatif tinggi. Hal itu mendasari bahwa climate change tidak hanya berdampak pada sistem ekosistem dan lingkungan, tetapi juga memperbesar tantangan pengendalian penyakit di wilayah dengan keterbatasan akses geografis.
Sistem Kesehatan di Tengah Lautan.
Maluku memiliki 271 fasilitas kesehatan yakni 241 Puskesmas dan 30 Rumah Sakit, yang tersebar di 11 kabupaten / kota. Sistem kesehatan kepulauan memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan wilayah daratan.
Distribusi logistik sangat bergantung pada transportasi laut dan cuaca ekstrem, yang dapat memperlambat pengiriman, terutama obat dan peralatan kesehatan. Pelaporan kasus, di satu sisi, ada kemungkinan jaringan komunikasi akan putus. Inovasi tetap dikerjakan dan pemantauan stok obat bisa dilaporkan langsung ke tingkat layanan. Sistem pencatatan dan pelaporan HIV, TBC, dan malaria sudah ada dan semakin terintegrasi.
Dari Vulnerability Menuju Resilience
Dengan demikian, Maluku menunjukkan bahwa dengan tantangan perubahan iklim, wilayah kepulauan bisa menjadi model resilience health. Beberapa hasil penting yaitu beberapa wilayah telah mendapatkan eliminasi malaria: kota Ambon, kota Tual, kabupaten Buru dan Buru Selatan diberikan sertifikat eliminasi malaria. Penanggulangan TBC Percepatan di Maluku telah membentuk tim percepatan melalui Keputusan Gubernur Maluku Nomor 951 Tahun 2024; kemitraan lintas sektor dan masyarakat diperkuat dalam mencapai target “Three Zero”: zero new infection, zero aids-related death, zero stigma.
Approach yang dibangun adalah climate-resilient health system, yaitu sistem kesehatan yang mampu mengadaptasi risiko iklim dan mampu berkesinambungan.
Maluku sebagai Role Model Nasional
Maluku adalah kepulauan provinsi yang berisiko tinggi dibandingkan dengan provinsi lain, namun faktor risiko itu menjadi faktor inovasi serta penguatan sistem. Pengetahuan dari Maluku, yaitu data kesehatan dan data cuaca, penting untuk mendeteksi gejala risiko penyakit. The supply chains and logistics readiness perlu ditingkatkan demi layanan yang lebih tangguh. Kemitraan sektoral harus dibatasi menjadi base-knowledge dan radikal sacred. Edukasi dan penanggulangan stigma adalah bagian penting dari penyakit. Ini adalah wawasan bukan hanya untuk Maluku, melainkan juga untuk wilayah lain di dalam Indonesia.(yanaslian)