JoyAge dan Masa Depan Kesehatan Mental Lansia: Model Pencegahan Depresi, Kecemasan, dan Kesepian Berbasis Komunitas
Pendahuluan
Dunia sedang mengalami transformasi demografi yang ditandai oleh meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk lanjut usia. Fenomena ini merupakan salah satu capaian penting pembangunan manusia karena mencerminkan perbaikan angka harapan hidup, pengendalian penyakit, status gizi, sanitasi, pendidikan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Namun, peningkatan usia harapan hidup tidak secara otomatis menjamin bahwa tahun-tahun tambahan kehidupan akan dijalani dalam kondisi sehat, mandiri, produktif, dan bermakna.
Penuaan penduduk membawa konsekuensi multidimensional. Selain meningkatnya penyakit tidak menular, gangguan fungsi, kebutuhan rehabilitasi, dan perawatan jangka panjang, masyarakat juga harus menghadapi masalah kesehatan mental pada usia lanjut. Depresi, kecemasan, kesepian, kehilangan peran sosial, dan isolasi sosial sering kali tidak terdeteksi karena dianggap sebagai bagian normal dari proses menua. Padahal, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup, memperburuk penyakit kronis, meningkatkan ketergantungan, dan melemahkan kemampuan lansia untuk tetap berpartisipasi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, JoyAge menjadi model yang penting untuk dipelajari. Program yang dikembangkan di Hong Kong ini mengintegrasikan pelayanan lanjut usia, pelayanan kesehatan mental, intervensi psikososial berbasis bukti, dukungan sebaya, dan sistem pelayanan bertahap. Penelitian berskala besar menunjukkan bahwa JoyAge mampu mengurangi gejala depresi, kecemasan, dan kesepian pada lansia dalam pelayanan nyata di masyarakat (Liu et al., 2026).
Dunia sedang mengalami pertumbuhan populasi lansia
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menggunakan usia 60 tahun atau lebih sebagai salah satu batas operasional dalam pembahasan statistik global tentang penduduk lanjut usia. Pada 2020, jumlah penduduk dunia berusia 60 tahun atau lebih telah mencapai sekitar 1 miliar orang. Jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 1,1 miliar orang pada 2023 dan diproyeksikan mencapai 1,4 miliar pada 2030 serta sekitar 2,1 miliar pada 2050 (World Health Organization [WHO], 2025a). (Organisasi Kesehatan Dunia)
Dengan demikian, antara 2020 dan 2030, dunia diperkirakan memperoleh tambahan sekitar 400 juta penduduk berusia 60 tahun atau lebih, setara dengan peningkatan sekitar 40% hanya dalam satu dekade. Pada 2030, sekitar satu dari setiap enam penduduk dunia diperkirakan berusia 60 tahun atau lebih. Pada 2050, sekitar 80% penduduk lanjut usia diproyeksikan tinggal di negara berpendapatan rendah dan menengah. Hal ini menunjukkan bahwa penuaan penduduk bukan hanya persoalan negara maju, melainkan tantangan pembangunan global yang semakin terkonsentrasi di negara-negara dengan sumber daya kesehatan dan perlindungan sosial yang relatif terbatas (WHO, 2025a). (Organisasi Kesehatan Dunia)
Perubahan populasi lansia global
| Indikator | Sekitar 2020 | Data terbaru/proyeksi | Arah perubahan
|
| Penduduk berusia ≥60 tahun | ±1,0 miliar | ±1,1 miliar pada 2023 | Meningkat
|
| Proyeksi penduduk ≥60 tahun | — | 1,4 miliar pada 2030 | Naik sekitar 40% dibandingkan 2020
|
| Proyeksi jangka panjang | — | 2,1 miliar pada 2050 | Lebih dari dua kali jumlah 2020 |
| Distribusi geografis 2050 | — | ±80% tinggal di negara berpendapatan rendah dan menengah | Bergeser ke negara berkembang |
Data tersebut memperlihatkan bahwa secara global tidak terjadi pengurangan populasi lansia. Sebaliknya, jumlahnya terus meningkat. Karena itu, sasaran kebijakan bukanlah mengurangi jumlah lansia, melainkan mengurangi penyakit, disabilitas, ketergantungan, kesepian, depresi, dan kesenjangan akses pelayanan yang dapat menurunkan kualitas hidup mereka.
Pertumbuhan penduduk lansia di Indonesia
Indonesia mengalami perubahan demografi yang serupa. Pada 2020, Indonesia memiliki sekitar 26,82 juta penduduk lanjut usia, atau sekitar 9,92% dari seluruh penduduk. Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia pada saat itu telah berada di ambang struktur penduduk menua (Badan Pusat Statistik [BPS], 2020). Publikasi BPS mengenai lansia menggunakan data utama Survei Sosial Ekonomi Nasional dan sumber statistik nasional lainnya untuk menggambarkan kondisi demografi, kesehatan, sosial, serta ekonomi penduduk lanjut usia. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus atau SUPAS 2025 menunjukkan bahwa proporsi penduduk lanjut usia Indonesia telah meningkat menjadi 11,97%. BPS secara resmi menyatakan bahwa Indonesia telah memasuki fase ageing population atau penduduk menua (BPS, 2026a). (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan SUPAS 2025 mencapai sekitar 284,67 juta jiwa. Apabila proporsi lansia sebesar 11,97% diterapkan terhadap jumlah tersebut, jumlah penduduk lanjut usia Indonesia dapat diperkirakan sekitar 34,08 juta orang. Angka 34,08 juta tersebut merupakan hasil perhitungan berdasarkan jumlah penduduk dan proporsi lansia, bukan angka absolut yang dinyatakan secara langsung sebagai hasil utama dalam siaran pers BPS (BPS, 2026a, 2026b). (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Pertambahan lansia Indonesia, 2020–2025
| Indikator | 2020 | 2025 |
Perubahan |
| Proporsi lansia | 9,92% | 11,97% | Naik 2,05 poin persentase |
| Perkiraan jumlah lansia | 26,82 juta | ±34,08 juta | Bertambah sekitar 7,26 juta |
| Perubahan relatif proporsi lansia | — | — | Meningkat sekitar 20,7% |
| Status demografi | Mendekati ageing population | Telah memasuki ageing population | Penuaan penduduk semakin nyata |
Dalam waktu sekitar lima tahun, jumlah lansia Indonesia diperkirakan bertambah lebih dari 7 juta orang. Proporsi lansia juga meningkat sekitar 20,7% secara relatif, dari 9,92% menjadi 11,97%. Dengan struktur tersebut, hampir satu dari setiap delapan penduduk Indonesia saat ini merupakan penduduk lanjut usia.
Pertumbuhan populasi lansia tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai beban. Lansia memiliki pengalaman, pengetahuan, jejaring sosial, keterampilan, nilai budaya, dan kemampuan untuk tetap memberikan kontribusi kepada keluarga serta masyarakat. Namun, manfaat demografis tersebut hanya dapat dipertahankan apabila sistem kesehatan dan sosial mampu menjaga kapasitas fungsional, kemandirian, keamanan ekonomi, kesehatan mental, dan partisipasi sosial mereka.
Tanpa persiapan yang memadai, peningkatan jumlah lansia dapat diikuti oleh bertambahnya penyakit tidak menular, multimorbiditas, keterbatasan mobilitas, gangguan sensorik, demensia, depresi, kecemasan, kesepian, serta kebutuhan perawatan jangka panjang. Karena itu, kebijakan kelanjutusiaan perlu bergerak dari paradigma yang hanya berfokus pada pengobatan penyakit menuju paradigma healthy ageing, yaitu mempertahankan kemampuan fungsional yang memungkinkan seseorang tetap sejahtera pada usia lanjut (WHO, n.d.). (Organisasi Kesehatan Dunia)
Populasi lansia bertambah, tetapi dukungan kesehatan mental masih terbatas
Peningkatan populasi lansia belum selalu diikuti oleh pertumbuhan tenaga dan fasilitas kesehatan mental yang memadai. Banyak negara masih menghadapi keterbatasan jumlah psikiater, psikolog klinis, perawat kesehatan jiwa, pekerja sosial, konselor, serta layanan kesehatan mental berbasis masyarakat.
Ketidakseimbangan ini menimbulkan treatment gap, yaitu kesenjangan antara jumlah orang yang membutuhkan pelayanan dan jumlah orang yang benar-benar menerima intervensi yang tepat. Masalah tersebut menjadi lebih besar apabila sistem pelayanan baru bereaksi setelah seseorang mengalami depresi berat, krisis psikologis, percobaan bunuh diri, atau penurunan fungsi yang bermakna.
Pada usia lanjut, masalah kesehatan mental juga sering tersamarkan oleh keluhan fisik. Depresi dapat muncul sebagai mudah lelah, nyeri yang menetap, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, kehilangan minat, penurunan aktivitas, atau semakin jarangnya seseorang berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat. Keluhan tersebut dapat dianggap sebagai konsekuensi alamiah dari usia sehingga penyebab psikologis dan sosialnya tidak segera dikenali.
WHO memperkirakan sekitar 11,8% lansia di dunia mengalami kesepian. Dengan populasi global usia 60 tahun atau lebih yang telah mencapai sekitar 1,1 miliar orang, persentase tersebut secara kasar setara dengan hampir 130 juta lansia. Perhitungan tersebut hanya memberikan ilustrasi besarnya masalah karena prevalensi dan jumlah populasi berasal dari estimasi global yang dapat berbeda menurut tahun, wilayah, metode pengukuran, dan definisi kesepian (WHO, 2025b). (Organisasi Kesehatan Dunia)
Kesepian tidak sama dengan sekadar hidup sendirian. Seseorang dapat tinggal bersama keluarga, tetapi tetap merasa tidak didengar, tidak dipahami, tidak dibutuhkan, atau tidak mempunyai hubungan yang bermakna. Sebaliknya, seseorang yang tinggal sendiri belum tentu merasa kesepian apabila tetap memiliki hubungan sosial yang kuat dan mendukung.
Kesepian dan isolasi sosial perlu dipandang sebagai determinan kesehatan. Kondisi tersebut berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih buruk, berkurangnya aktivitas fisik, gangguan tidur, penurunan kesejahteraan, dan meningkatnya kebutuhan pelayanan. WHO menempatkan hubungan sosial sebagai isu kesehatan masyarakat global karena dampaknya meluas terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan kehidupan bermasyarakat (WHO, 2025c). (Organisasi Kesehatan Dunia)
Menjadi tua tidak harus berarti hidup dalam kesepian
Penuaan merupakan proses biologis dan sosial yang alamiah, tetapi pengalaman menjadi tua sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Memasuki usia lanjut, seseorang dapat mengalami pensiun, kehilangan pasangan hidup, berkurangnya pendapatan, penyakit kronis, keterbatasan mobilitas, perubahan tempat tinggal, atau berkurangnya hubungan dengan teman dan kolega.
Perubahan tersebut tidak selalu menyebabkan gangguan mental. Namun, apabila terjadi secara bersamaan dan tidak disertai dukungan keluarga, sosial, serta pelayanan kesehatan yang memadai, risikonya dapat meningkat.
Lansia yang lebih banyak diam, kehilangan minat, sulit tidur, merasa tidak berguna, mudah khawatir, berhenti mengikuti kegiatan sosial, atau menyampaikan bahwa hidupnya tidak lagi bermakna perlu memperoleh perhatian. Gejala tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai bagian normal dari proses menua.
Salah satu pendekatan yang dapat dipelajari untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah Jockey Club Holistic Support Project for Elderly Mental Wellness, yang dikenal sebagai JC JoyAge atau JoyAge.
Apa itu JoyAge?
JoyAge merupakan program pencegahan kesehatan mental terintegrasi yang dikembangkan di Hong Kong. Program ini menghubungkan pusat pelayanan lanjut usia dengan unit kesehatan mental komunitas untuk memberikan pelayanan yang terstandar kepada lansia dengan faktor risiko depresi maupun gejala depresi subklinis.
Komponen utama JoyAge meliputi:
- kolaborasi antara pelayanan lanjut usia dan pelayanan kesehatan mental;
- deteksi dini faktor risiko dan gejala depresi;
- intervensi psikososial berbasis bukti oleh pekerja sosial terlatih;
- dukungan teman sebaya atau peer support;
- pemantauan berkelanjutan;
- serta pelayanan bertahap berdasarkan tingkat keparahan dan respons peserta.
JoyAge menggunakan model collaborative stepped care. Dalam model ini, intensitas pelayanan disesuaikan dengan kebutuhan. Peserta tidak langsung ditempatkan pada pelayanan spesialistik apabila kebutuhan mereka masih dapat ditangani melalui intervensi berintensitas rendah di komunitas. Sebaliknya, pelayanan ditingkatkan apabila gejala lebih berat, menetap, tidak merespons intervensi awal, atau disertai risiko keselamatan (JC JoyAge, n.d.-a; Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
Pendekatan ini mencerminkan prinsip task-sharing, yaitu pembagian tugas pelayanan kepada tenaga nonspesialis yang telah memperoleh pelatihan, panduan, supervisi, dan mekanisme rujukan yang jelas. Tujuannya bukan menggantikan psikiater atau psikolog klinis, melainkan memperluas jangkauan deteksi dini dan intervensi awal.
Sasaran program JoyAge
Dalam penelitian JoyAge, peserta adalah penduduk berusia 60 tahun atau lebih yang memenuhi salah satu dari dua kelompok utama.
Kelompok pertama adalah lansia yang belum menunjukkan gejala depresi bermakna, tetapi memiliki faktor risiko, seperti:
- kesepian atau isolasi sosial;
- nyeri kronis;
- riwayat depresi atau kecemasan;
- kehilangan orang terdekat;
- memiliki lebih dari empat penyakit kronis;
- atau melakukan aktivitas bermakna kurang dari 30 menit per hari.
Kelompok kedua adalah lansia dengan gejala depresi ringan hingga cukup berat, tetapi belum mencapai kategori depresi berat. Peserta dengan depresi berat atau risiko bunuh diri segera dirujuk kepada pelayanan kesehatan mental spesialistik dan tidak hanya ditangani melalui kegiatan komunitas (Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
Pemilahan tersebut menunjukkan bahwa JoyAge tidak semata-mata berfungsi sebagai program pengobatan. Program ini menjalankan dua bentuk pencegahan:
- pencegahan selektif, bagi lansia yang memiliki faktor risiko; dan
- pencegahan terindikasi, bagi lansia yang telah menunjukkan gejala awal, tetapi belum memenuhi kondisi yang memerlukan tata laksana spesialistik segera.
Bagaimana JoyAge dilaksanakan?
-
Penjangkauan dan deteksi dini
Peserta dapat dijangkau melalui organisasi masyarakat, pusat pelayanan lansia, fasilitas kesehatan, keluarga, kegiatan komunitas, atau sistem rujukan terbuka. Pekerja sosial klinis melakukan wawancara dan asesmen awal untuk menilai gejala depresi, risiko bunuh diri, kecemasan, kesepian, kondisi sosial, fungsi kognitif, serta kebutuhan peserta (Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
Instrumen yang digunakan dalam penelitian meliputi:
- Patient Health Questionnaire-9 atau PHQ-9 untuk gejala depresi;
- Generalized Anxiety Disorder-7 atau GAD-7 untuk kecemasan;
- dan UCLA Loneliness Scale versi tiga butir atau UCLA-3 untuk kesepian.
Skrining tidak dimaksudkan untuk menggantikan diagnosis klinis. Hasil skrining menjadi dasar untuk menentukan apakah peserta memerlukan edukasi, intervensi kelompok, psikoterapi individual, pemantauan, atau rujukan.
-
Penentuan tingkat intervensi
Peserta dengan faktor risiko tanpa gejala bermakna memperoleh kegiatan keterlibatan sosial dan pencegahan di unit pelayanan lansia komunitas.
Peserta dengan gejala ringan dapat mengikuti psikoedukasi kelompok dan psikoterapi kelompok, termasuk terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioural therapy dan terapi pemecahan masalah atau problem-solving therapy.
Peserta dengan gejala sedang atau lebih berat memperoleh psikoterapi individual dan rujukan bila diperlukan. Intervensi tersebut diberikan oleh pekerja sosial yang telah menjalani pelatihan terstruktur mengenai kesehatan mental geriatri, asesmen, CBT, dan terapi pemecahan masalah yang diadaptasi bagi lansia (Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
-
Intervensi psikososial berbasis bukti
Intervensi JoyAge dapat mencakup:
- pendidikan kesehatan mental;
- pengenalan hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku;
- peningkatan aktivitas harian yang bermakna;
- latihan pemecahan masalah;
- pengelolaan emosi;
- penguatan hubungan sosial;
- konseling kelompok atau individual;
- serta penyusunan rencana pemulihan.
Salah satu pendekatan yang relevan adalah behavioural activation. Pendekatan ini membantu peserta kembali terlibat secara bertahap dalam kegiatan yang bermakna, menyenangkan, atau memberikan rasa pencapaian.
Dalam konteks Indonesia, bentuknya dapat berupa berjalan pagi, berkebun, memasak, mengasuh cucu secara proporsional, membaca, mengikuti kegiatan keagamaan, mengikuti posyandu lansia, mengajar keterampilan, berbincang dengan teman, atau terlibat dalam kegiatan sosial setempat.
Aktivitas tersebut bukan sekadar pengisi waktu. Aktivitas yang direncanakan secara terapeutik dapat membantu memulihkan struktur kehidupan sehari-hari, rasa mampu, hubungan sosial, dan tujuan hidup.
-
Dukungan teman sebaya
Dukungan teman sebaya merupakan salah satu karakteristik utama JoyAge. Peer supporters dapat berasal dari kelompok usia yang lebih tua yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental atau memiliki faktor risiko, kemudian telah pulih dan memperoleh pelatihan.
Dalam penelitian JoyAge, pendamping sebaya menjalani pelatihan terstruktur selama sekitar 100 jam, disertai supervisi lapangan. Mereka membantu kegiatan penjangkauan, mendukung kelompok terapi, melakukan kunjungan atau komunikasi tindak lanjut, dan memberikan dukungan pada masa pemulihan. Dukungan sebaya dimaksudkan untuk menjaga keterhubungan peserta dan membantu mencegah kekambuhan setelah sesi formal berakhir (Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
Pendamping sebaya tidak menggantikan dokter, psikolog, psikiater, atau pekerja sosial. Perannya adalah menjadi pendengar yang empatik, sumber harapan, penghubung dengan komunitas, dan pendamping yang membantu peserta tetap mengikuti rencana pemulihan.
-
Pemantauan, peningkatan pelayanan, dan rujukan
Durasi pelayanan JoyAge berkisar antara dua sampai 12 bulan, bergantung pada tingkat gejala dan kebutuhan peserta. Setelah fase intervensi aktif, peserta memasuki fase pemulihan dengan pemantauan, kunjungan atau panggilan berkala dari pendamping sebaya, serta perencanaan keluar dari pelayanan.
Apabila peserta tidak menunjukkan perbaikan setelah pelayanan, mengalami depresi berat, atau menunjukkan risiko bunuh diri, mereka dirujuk kepada pelayanan kesehatan mental spesialistik (Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
Secara sederhana, alur JoyAge dapat diringkas sebagai berikut:
Penjangkauan → skrining → stratifikasi risiko → intervensi sesuai kebutuhan → dukungan sebaya → evaluasi berkala → pemeliharaan atau peningkatan pelayanan → rujukan bila diperlukan.
Bukti efektivitas JoyAge
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders pada 2026 mengevaluasi efektivitas JoyAge melalui suatu uji kuasi-eksperimental pragmatis. Penelitian berlangsung dalam konteks pelayanan komunitas nyata di Hong Kong, bukan dalam lingkungan penelitian klinis yang sangat terkendali.
Sebanyak 3.416 peserta dianalisis dalam kerangka intention-to-treat, terdiri atas:
- 975 peserta dalam kelompok JoyAge; dan
- 441 peserta dalam kelompok pelayanan biasa.
Rata-rata usia seluruh peserta sekitar 76,9 tahun. Rata-rata usia kelompok JoyAge adalah 77,1 tahun dan sekitar 79% pesertanya perempuan. Penempatan peserta tidak dilakukan secara acak individual, melainkan berdasarkan distrik tempat tinggal, sehingga penelitian ini disebut kuasi-eksperimental, bukan uji klinis teracak (Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
Setelah 12 bulan, JoyAge menunjukkan penurunan gejala yang lebih besar daripada pelayanan biasa pada tiga luaran utama.
| Luaran | Perbedaan rerata tersesuaikan yang menguntungkan JoyAge | 95% CI | Nilai p |
Besar efek |
| Gejala depresi | 1,65 poin | 1,24–2,07 | <0,001 | 0,44 |
| Gejala kecemasan | 1,47 poin | 1,01–1,93 | <0,001 | 0,40 |
| Kesepian | 1,29 poin | 0,98–1,60 | <0,001 |
0,37 |
Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta JoyAge mengalami penurunan gejala depresi, kecemasan, dan kesepian yang secara statistik lebih besar daripada kelompok pelayanan biasa. Besar efek berada pada kisaran kecil hingga sedang. Meskipun tidak menunjukkan perubahan yang sangat besar pada setiap individu, dampaknya tetap relevan bagi kesehatan masyarakat karena program diberikan kepada populasi nonklinis dalam jumlah besar dan bertujuan mencegah perburukan gejala (Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
Nilai p kurang dari 0,001 menunjukkan bahwa hasil yang diamati sangat tidak mungkin terjadi semata-mata karena variasi acak apabila sebenarnya tidak terdapat perbedaan antarintervensi. Namun, nilai p tidak menunjukkan besarnya manfaat klinis. Karena itu, interpretasi hasil perlu mempertimbangkan besar efek, karakteristik peserta, skala pelayanan, dan tujuan pencegahan.
Retensi peserta
Tingkat keluar sebelum penilaian 12 bulan pada kelompok JoyAge adalah 9,4%, dibandingkan 28,1% pada kelompok pelayanan biasa. Dengan demikian, JoyAge memiliki retensi peserta yang lebih baik. Sebanyak 90,7% peserta JoyAge juga dilaporkan menyelesaikan pelayanan, dengan median masa pelayanan sekitar 9,93 bulan (Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
Retensi penting karena program kesehatan mental komunitas hanya dapat memberikan manfaat apabila peserta tetap terlibat. Keterlibatan yang lebih tinggi kemungkinan berhubungan dengan kedekatan pelayanan, dukungan sosial, pemantauan aktif, dan keberadaan pendamping sebaya. Namun, penelitian belum dapat menentukan secara pasti komponen mana yang memberikan kontribusi terbesar.
Apakah hasilnya konsisten setelah kelompok diseimbangkan?
Jumlah peserta JoyAge jauh lebih besar daripada kelompok pelayanan biasa. Karakteristik dasar kedua kelompok juga tidak sepenuhnya sama. Untuk mengurangi potensi bias tersebut, peneliti melakukan analisis sensitivitas menggunakan propensity score matching.
Dalam analisis ini, 422 peserta JoyAge dipasangkan dengan 422 peserta pelayanan biasa berdasarkan variabel demografi dan sosial ekonomi, termasuk usia, jenis kelamin, pendidikan, status ekonomi, dan kondisi tempat tinggal.
Hasilnya tetap konsisten. JoyAge menunjukkan penurunan yang lebih besar pada:
- gejala depresi sebesar 1,99 poin;
- gejala kecemasan sebesar 1,62 poin;
- dan kesepian sebesar 1,03 poin.
Besar efek masing-masing adalah 0,48 untuk depresi, 0,37 untuk kecemasan, dan 0,34 untuk kesepian (Liu et al., 2026).
Konsistensi tersebut memperkuat temuan utama. Namun, propensity score matching hanya dapat menyeimbangkan variabel yang diukur dan dimasukkan dalam model. Metode ini tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan adanya faktor perancu yang tidak terukur.
Kekuatan dan keterbatasan penelitian
Penelitian JoyAge memiliki beberapa kekuatan penting:
- melibatkan lebih dari 3.400 peserta;
- dilaksanakan dalam pelayanan komunitas nyata;
- mengevaluasi luaran pada 12 bulan;
- menggunakan instrumen terstandar;
- menguji hasil melalui analisis intention-to-treat;
- serta melakukan analisis sensitivitas dengan kelompok yang dipasangkan.
Meskipun demikian, hasilnya perlu ditafsirkan secara proporsional. Penelitian tidak menggunakan randomisasi individual. Penempatan peserta berdasarkan wilayah dapat menimbulkan perbedaan karakteristik atau lingkungan pelayanan yang tidak seluruhnya dapat dikendalikan.
Selain itu, kelompok JoyAge dan kelompok kontrol memiliki ukuran yang tidak seimbang. Penilai pada kedua kelompok juga tidak selalu sama. Penelitian belum mampu menentukan secara pasti “bahan aktif” utama dari program—apakah manfaat terutama berasal dari psikoterapi, peningkatan kontak sosial, perhatian petugas, pendampingan sebaya, atau kombinasi seluruh komponen tersebut (Liu et al., 2026). (JC JoyAge Research Website)
Oleh sebab itu, kesimpulan yang tepat bukan bahwa JoyAge telah membuktikan satu terapi tertentu sebagai penyebab tunggal perbaikan. Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa paket pelayanan terpadu JoyAge berhubungan dengan hasil yang lebih baik daripada pelayanan biasa dalam konteks implementasi nyata.
Mengapa program ini penting?
JoyAge penting karena menggeser titik intervensi dari pengobatan terlambat menuju pencegahan dan deteksi dini. Program tidak menunggu sampai lansia mengalami depresi berat, kehilangan fungsi, atau membutuhkan perawatan rumah sakit.
Pendekatannya dibangun melalui:
deteksi dini, intervensi yang proporsional, kolaborasi lintas pelayanan, dukungan sosial, pemantauan berkelanjutan, dan rujukan tepat waktu.
Model tersebut juga menjawab masalah keterbatasan tenaga spesialis. Pekerja sosial dan pendamping sebaya dapat menjalankan fungsi tertentu setelah memperoleh pelatihan dan supervisi, sementara tenaga spesialis difokuskan pada kasus yang lebih berat atau kompleks.
JoyAge memperlihatkan bahwa pencegahan depresi pada lansia tidak cukup dilakukan melalui pendekatan farmakologis. Faktor sosial, kehilangan peran, rendahnya aktivitas, kesepian, stigma, hubungan keluarga, rasa memiliki, dan keterhubungan dengan masyarakat harus menjadi bagian dari intervensi.
Kesepian sebagai masalah kesehatan masyarakat
Sebuah kegiatan teleskrining terhadap lansia di Hong Kong pada masa pandemi menemukan bahwa sekitar 14% peserta memiliki skor skrining depresi yang bermakna, 12% memiliki skor kecemasan yang bermakna, dan 29% memiliki tingkat kesepian yang bermakna. Temuan tersebut berasal dari skrining singkat dan tidak identik dengan diagnosis klinis, tetapi menunjukkan bahwa kesepian dapat menjadi masalah yang lebih luas daripada gangguan depresi atau kecemasan yang terdeteksi melalui instrumen singkat (The University of Hong Kong, 2022). (Universitas Hong Kong)
Kesepian yang tidak ditangani dapat membentuk lingkaran yang saling memperkuat. Seseorang yang merasa kesepian dapat semakin menarik diri, kemudian kehilangan aktivitas, dukungan emosional, rasa percaya diri, dan kesempatan memperoleh pertolongan. Penurunan aktivitas tersebut selanjutnya dapat memperburuk kondisi fisik maupun psikologis.
Karena itu, hubungan sosial bukan sekadar pelengkap atau hiburan. Hubungan yang aman, bermakna, dan berkelanjutan merupakan bagian dari lingkungan terapeutik dan sistem perlindungan kesehatan lansia.
Potensi adaptasi JoyAge di Indonesia
Indonesia memiliki modal sosial yang cukup kuat untuk mengadaptasi prinsip JoyAge. Modal tersebut mencakup budaya kekeluargaan, gotong royong, posyandu lansia, puskesmas, kader kesehatan, organisasi keagamaan, kelompok masyarakat, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan jaringan pemerintah desa.
Namun, adaptasi tidak berarti menyalin program Hong Kong secara langsung. Model harus disesuaikan dengan:
- budaya dan bahasa lokal;
- struktur pelayanan primer;
- ketersediaan tenaga;
- regulasi praktik tenaga kesehatan;
- sistem pembiayaan;
- kemampuan pemerintah daerah;
- kondisi geografis;
- literasi kesehatan;
- serta pola hubungan keluarga dan komunitas.
Kolaborasi dapat melibatkan:
- puskesmas dan jejaringnya;
- posyandu lansia;
- klinik dan rumah sakit;
- dinas kesehatan dan dinas sosial;
- pemerintah desa atau kelurahan;
- pekerja sosial;
- dokter, perawat, dan psikolog;
- perguruan tinggi;
- kader kesehatan;
- organisasi keagamaan;
- keluarga;
- dan kelompok lansia.
Usulan model adaptasi di Indonesia
Program dapat dimulai sebagai proyek percontohan di satu wilayah puskesmas atau beberapa desa. Komponen dasarnya dapat meliputi:
- Pemetaan sasaran, terutama lansia yang tinggal sendiri, baru kehilangan pasangan, mengalami penyakit kronis, jarang berinteraksi, atau baru memasuki masa pensiun.
- Skrining awal, menggunakan instrumen singkat yang tervalidasi dan disertai prosedur penilaian risiko bunuh diri.
- Stratifikasi kebutuhan, untuk membedakan peserta yang membutuhkan edukasi, kegiatan kelompok, konseling singkat, evaluasi dokter, atau rujukan spesialistik.
- Aktivitas sosial bermakna, seperti kelompok berbincang, jalan sehat, senam, berkebun, memasak, seni, kegiatan keagamaan, atau pembelajaran antargenerasi.
- Intervensi psikososial singkat, oleh tenaga yang telah mendapatkan pelatihan, panduan kerja, dan supervisi profesional.
- Dukungan teman sebaya, dengan seleksi, pelatihan, batas kewenangan, dokumentasi, dan mekanisme eskalasi yang jelas.
- Kunjungan rumah atau pemantauan jarak jauh, khususnya bagi lansia dengan hambatan mobilitas atau tinggal di wilayah sulit dijangkau.
- Pelibatan keluarga, agar anggota keluarga memahami tanda awal depresi, kecemasan, penurunan fungsi, dan risiko bunuh diri.
- Sistem rujukan, termasuk protokol untuk depresi berat, gejala psikotik, gangguan kognitif berat, penelantaran, kekerasan, dan keadaan darurat.
- Evaluasi program, menggunakan indikator proses, luaran klinis, kualitas hidup, fungsi sosial, retensi, keselamatan, biaya, dan kepuasan peserta.
Indikator evaluasi yang dapat digunakan
Adaptasi JoyAge di Indonesia perlu disertai kerangka evaluasi yang kuat. Beberapa indikator yang dapat digunakan adalah:
| Domain | Contoh indikator |
| Jangkauan | Jumlah lansia yang ditawari dan menjalani skrining |
| Akses | Waktu antara skrining dan intervensi pertama |
| Retensi | Persentase peserta yang tetap mengikuti program |
| Depresi | Perubahan skor PHQ-9 atau instrumen tervalidasi lain |
| Kecemasan | Perubahan skor GAD-7 |
| Kesepian | Perubahan skor skala kesepian |
| Fungsi sosial | Frekuensi aktivitas bermakna dan keterlibatan komunitas |
| Keselamatan | Jumlah kasus risiko bunuh diri yang terdeteksi dan dirujuk |
| Rujukan | Persentase kasus yang menyelesaikan proses rujukan |
| Pengalaman peserta | Kepuasan, rasa dihargai, dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan |
| Ekonomi | Biaya per peserta dan biaya per perbaikan luaran |
| Keberlanjutan | Jumlah kader, tenaga, dan organisasi yang tetap aktif |
Evaluasi tidak boleh hanya mengukur penurunan skor depresi. Program lansia juga perlu menilai apakah peserta menjadi lebih aktif, lebih terhubung, lebih mandiri, merasa hidupnya lebih bermakna, dan mempunyai akses yang lebih baik terhadap pertolongan.
Siapa yang berpotensi memperoleh manfaat?
Program seperti JoyAge terutama relevan bagi lansia yang:
- hidup sendiri atau mengalami isolasi sosial;
- baru kehilangan pasangan atau anggota keluarga;
- baru memasuki masa pensiun;
- mengalami penyakit kronis atau nyeri menetap;
- memiliki aktivitas harian yang sangat terbatas;
- jarang berinteraksi dengan orang lain;
- kehilangan minat terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai;
- sering merasa sedih, khawatir, tidak berguna, atau menjadi beban;
- mengalami gangguan tidur dan perubahan nafsu makan;
- atau menunjukkan gejala depresi ringan hingga sedang.
JoyAge juga telah diperluas untuk melayani kelompok paruh baya dan lansia berusia 45 tahun atau lebih dengan gejala depresi. Pengembangan tersebut memperlihatkan pentingnya perspektif perjalanan hidup atau life-course approach, yaitu memulai pencegahan sebelum seseorang memasuki usia lanjut dengan masalah yang sudah kompleks (JC JoyAge, 2024). (JC JoyAge Research Website)
Skala pengembangan JoyAge
JoyAge berkembang dari suatu proyek percontohan menjadi jaringan pelayanan komunitas yang lebih luas. Antara 2016 dan 2023, program ini dilaporkan telah melatih ribuan duta kesehatan mental dan ratusan pendamping sebaya. Pendamping tersebut memberikan ratusan ribu sesi dukungan emosional kepada lansia. Ratusan pekerja sosial juga memperoleh pelatihan intensif dan supervisi mengenai kesehatan mental pada usia lanjut (JC JoyAge, 2024). (JC JoyAge Research Website)
Skala tersebut menunjukkan bahwa intervensi kesehatan mental berbasis komunitas dapat dikembangkan secara luas apabila didukung oleh:
- kepemimpinan dan tata kelola yang kuat;
- pendanaan yang berkelanjutan;
- pelatihan terstandar;
- supervisi profesional;
- sistem data dan pemantauan;
- jejaring rujukan;
- dan keterlibatan aktif masyarakat.
Implikasi strategis bagi Indonesia
Dengan sekitar 34 juta lansia, Indonesia memerlukan strategi yang tidak hanya berbasis rumah sakit. Bahkan apabila program komunitas hanya menjangkau 1% populasi lansia, jumlah penerima manfaat potensialnya dapat mencapai sekitar 340.000 orang.
Penerapan program pada 100 kabupaten atau kota dengan sasaran 1.000 lansia per wilayah sudah dapat menjangkau 100.000 peserta. Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa efek individual yang kecil hingga sedang tetap dapat menghasilkan dampak populasi yang penting apabila intervensi dilaksanakan dengan mutu yang konsisten dan cakupan yang luas.
Akan tetapi, perluasan program tidak boleh hanya mengejar jumlah peserta. Skala harus diikuti dengan kualitas, keselamatan, kesetaraan, dan akuntabilitas. Lansia di wilayah pedesaan, kepulauan, daerah terpencil, kelompok miskin, penyandang disabilitas, dan mereka yang hidup sendiri harus memperoleh perhatian khusus agar program tidak hanya menjangkau kelompok yang paling mudah mengakses pelayanan.
Pesan utama
JoyAge memberikan pelajaran bahwa masalah kesehatan mental pada usia lanjut dapat dicegah dan ditangani lebih awal melalui pelayanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Intervensi tidak selalu harus dimulai dengan pelayanan yang kompleks. Perubahan dapat dimulai ketika:
- ada seseorang yang mendengarkan;
- ada kegiatan yang kembali memberikan makna;
- ada teman yang mendampingi;
- ada keluarga yang memahami;
- ada tenaga terlatih yang melakukan asesmen;
- dan ada sistem yang mengetahui kapan pelayanan harus ditingkatkan.
JoyAge mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental lansia. Fokusnya bukan hanya mengurangi gejala, tetapi juga mempertahankan martabat, kemampuan fungsional, kemandirian, hubungan sosial, rasa memiliki, dan kualitas hidup.
Dengan lebih dari 1,1 miliar lansia secara global dan sekitar 34 juta lansia di Indonesia, investasi dalam pencegahan depresi, kecemasan, dan kesepian tidak lagi dapat ditempatkan sebagai program tambahan. Investasi tersebut merupakan kebutuhan strategis untuk memastikan bahwa keberhasilan memperpanjang usia manusia diikuti oleh keberhasilan mempertahankan kesehatan dan makna kehidupan.
Menambahkan usia pada kehidupan memang penting, tetapi menambahkan kesehatan, keterhubungan, kemandirian, dan kebahagiaan pada usia jauh lebih berharga.
Catatan keselamatan
JoyAge merupakan model pelayanan yang dikembangkan dalam konteks Hong Kong. Penerapannya di Indonesia memerlukan pengujian kelayakan, adaptasi budaya, pengaturan kewenangan tenaga, standar pelatihan, supervisi, pembiayaan, dan evaluasi.
Skrining kesehatan mental tidak menggantikan diagnosis klinis. Lansia yang mempunyai keinginan menyakiti diri, rencana bunuh diri, percobaan bunuh diri, kebingungan akut, halusinasi, perubahan perilaku mendadak, penolakan makan dan minum, atau ketidakmampuan merawat diri harus segera mendapatkan pemeriksaan profesional dan rujukan sesuai tingkat kegawatannya.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2020). Statistik penduduk lanjut usia 2020. BPS-Statistics Indonesia.
Badan Pusat Statistik. (2026a, May 5). SUPAS 2025: Angka kelahiran total (TFR) sebesar 2,13, angka kematian bayi (IMR) sebesar 14,12, dan persentase lansia mencapai 11,97 persen. BPS-Statistics Indonesia.
Badan Pusat Statistik. (2026b). Penduduk dan indikator kependudukan hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2025. BPS-Statistics Indonesia.
JC JoyAge. (n.d.-a). About JC JoyAge project. The University of Hong Kong.
JC JoyAge. (n.d.-b). Research scope: Collaborative stepped-care and peer-support services. The University of Hong Kong.
JC JoyAge. (2024). Effectiveness and cost-effectiveness of a collaborative stepped-care model for late-life mental health: JC JoyAge. The University of Hong Kong.
Liu, T., Leung, D. K. Y., Wong, D., Tse, S., Wong, P., Ng, S. M., Chan, W. C., Lou, V., Tang, J. Y.-M., Cheng, R., Lu, S., Wong, F. H. C., Zhang, W., Sze, L. C. Y., Kwok, W. W., Knapp, M., Lum, T. Y. S., & Wong, G. (2026). Effectiveness of an integrated prevention programme (“JoyAge”) for depressive symptoms, anxiety, and loneliness in older adults in Hong Kong: A pragmatic quasi-experimental trial. Journal of Affective Disorders, 402, Article 121333. https://doi.org/10.1016/j.jad.2026.121333
The University of Hong Kong. (2022). Survey reveals over a third of older adults in Hong Kong suffered from emotional distress in the fifth wave of COVID-19.
World Health Organization. (n.d.). Ageing. WHO.
World Health Organization. (2025a). Ageing: Global population. WHO.
World Health Organization. (2025b). Reducing social isolation and loneliness among older people. WHO.
World Health Organization. (2025c). From loneliness to social connection: Charting a path to healthier societies—Report of the WHO Commission on Social Connection. WHO.