Clinical Diagnostic Stewardship dalam Perspektif Filsafat Ilmu
Jika ditinjau dari perspektif filsafat ilmu, Clinical Diagnostic Stewardship sesungguhnya bukan sekadar pendekatan teknis untuk memilih pemeriksaan laboratorium yang tepat, melainkan sebuah proses epistemologis dalam memperoleh dan memvalidasi pengetahuan klinis. Dalam praktik sehari-hari, dokter tidak pernah berhadapan langsung dengan penyakit itu sendiri, melainkan dengan tanda, gejala, hasil pemeriksaan, dan berbagai bentuk representasi realitas biologis yang harus ditafsirkan menjadi sebuah diagnosis. Oleh karena itu, diagnosis merupakan proses konstruksi pengetahuan yang selalu mengandung unsur ketidakpastian (uncertainty).
Dalam tradisi filsafat sains, Karl Popper (1959) berpendapat bahwa ilmu pengetahuan berkembang melalui proses conjectures and refutations, yaitu hipotesis yang terus-menerus diuji dan berpotensi dibantah oleh bukti baru. Dalam konteks CDS, diagnosis awal yang dibangun melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat dipandang sebagai sebuah hipotesis klinis. Pemeriksaan mikrobiologi, kultur darah, PCR, maupun pemeriksaan lainnya berfungsi sebagai mekanisme untuk menguji hipotesis tersebut. Dengan demikian, hasil laboratorium tidak boleh diperlakukan sebagai kebenaran absolut, melainkan sebagai bukti yang memperkuat atau melemahkan dugaan klinis sebelumnya (Popper, 1959).
Perspektif ini juga sejalan dengan pemikiran Thomas Kuhn (1962) mengenai paradigm shifts. Selama bertahun-tahun, sistem pelayanan kesehatan cenderung menganggap bahwa semakin banyak pemeriksaan yang dilakukan, semakin baik kualitas diagnosis yang dihasilkan. Namun, bukti yang dipaparkan dalam webinar WHO menunjukkan bahwa pemeriksaan yang berlebihan (over-testing) justru dapat menghasilkan low-value care, meningkatkan risiko salah diagnosis akibat kolonisasi atau kontaminasi, serta memicu penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Dengan demikian, CDS dapat dipandang sebagai bagian dari perubahan paradigma dari “more diagnostics” menuju “smarter diagnostics”, yaitu penggunaan pemeriksaan yang lebih selektif, kontekstual, dan bernilai klinis tinggi.
Dari sudut pandang ontologi, CDS mengingatkan bahwa penyakit bukan hanya entitas biologis yang dapat ditemukan melalui teknologi laboratorium. Penyakit merupakan fenomena kompleks yang muncul dari interaksi antara agen infeksi, inang (host), lingkungan, perilaku, dan sistem pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, pendekatan diagnostik yang hanya berfokus pada hasil laboratorium berisiko mengabaikan konteks klinis dan sosial yang lebih luas. Dalam kerangka ini, CDS mencerminkan pendekatan sistemik yang memandang diagnosis sebagai hasil integrasi berbagai sumber informasi, bukan sekadar produk mesin atau teknologi.
Sementara itu, dari perspektif aksiologi atau nilai, CDS menunjukkan bahwa tujuan ilmu kedokteran tidak hanya menghasilkan informasi yang akurat, tetapi juga menghasilkan manfaat yang nyata bagi pasien dan masyarakat. Pemeriksaan yang tidak mengubah keputusan klinis, meskipun secara teknis akurat, dapat dianggap memiliki nilai yang rendah (low-value care). Dengan demikian, CDS menempatkan etika penggunaan sumber daya, keselamatan pasien, dan keberlanjutan sistem kesehatan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses diagnostik.
Pandangan ini semakin relevan dalam era resistensi antimikroba dan keterbatasan sumber daya kesehatan. Sebagaimana dikemukakan oleh Edgar Morin (2008), tantangan dunia modern tidak dapat diselesaikan melalui cara berpikir yang terfragmentasi, melainkan memerlukan pendekatan kompleks yang mampu menghubungkan berbagai disiplin ilmu. Dalam konteks tersebut, Clinical Diagnostic Stewardship dapat dipahami sebagai manifestasi systems thinking dalam pelayanan kesehatan, yaitu upaya mengintegrasikan ilmu klinis, mikrobiologi, epidemiologi, manajemen mutu, kesehatan masyarakat, dan kebijakan kesehatan untuk menghasilkan keputusan yang lebih tepat dan bernilai.
Dalam perspektif filsafat ilmu, Clinical Diagnostic Stewardship bukanlah sekadar upaya memperbaiki proses pemeriksaan laboratorium, melainkan sebuah transformasi cara berpikir ilmiah dalam praktik kedokteran. Ia menggeser fokus dari pencarian data sebanyak mungkin menuju pencarian pengetahuan yang paling bermakna bagi pasien. Dengan demikian, CDS bukan hanya strategi pengendalian resistensi antimikroba, tetapi juga representasi dari ilmu kedokteran yang lebih reflektif, bernilai, dan berkelanjutan dalam menghadapi kompleksitas sistem kesehatan abad ke-21.