“ERAS Bukan Sekadar Protokol: Pentingnya Komitmen dan Kolaborasi Setara antar Pemberi Asuhan dalam Implementasi Enhanced Recovery After Surgery di Indonesia”
Pendahuluan
Enhanced Recovery After Surgery atau ERAS telah lama dipromosikan sebagai pendekatan perioperatif berbasis bukti untuk mempercepat pemulihan pasien, menurunkan komplikasi, memperpendek lama rawat, dan meningkatkan efisiensi biaya pelayanan bedah. Namun, dalam praktiknya, keberhasilan ERAS tidak cukup hanya dengan menyusun panduan klinis, membuat checklist, atau mengadakan pelatihan sesaat. ERAS menuntut perubahan menyeluruh dalam cara kerja sistem pelayanan bedah.
Masalah utama implementasi ERAS di Indonesia bukan semata-mata ketiadaan pengetahuan klinis, melainkan lemahnya komitmen kolektif dan belum optimalnya kolaborasi setara antar pemberi asuhan. Bila dokter bedah, dokter anestesi, perawat, ahli gizi, fisioterapis, farmasis, manajemen rumah sakit, dan profesi lain masih bekerja dalam silo profesi masing-masing, maka ERAS akan sulit menghasilkan dampak yang bermakna.
Padahal, bukti internasional menunjukkan bahwa ERAS bukan intervensi yang kecil. Meta-analisis JAMA Network Open tahun 2024 terhadap 74 randomized clinical trials dengan 9.076 pasien menunjukkan bahwa ERAS berhubungan dengan penurunan lama rawat inap rata-rata 1,88 hari dan penurunan risiko komplikasi pascaoperasi dengan risk ratio 0,71. Namun, artikel tersebut juga menegaskan bahwa tantangan berikutnya bukan lagi membuktikan apakah ERAS bermanfaat, melainkan bagaimana meningkatkan implementasi, kepatuhan, dan jangkauan ERAS dalam praktik nyata.
Opini Utama: ERAS Akan Gagal Bila Dipahami sebagai Urusan Satu Profesi
ERAS sering kali dipersepsikan sebagai program milik dokter bedah atau anestesi. Pandangan ini keliru. Sejak awal, konsep ERAS atau fast-track surgery dibangun sebagai strategi multimodal, yaitu kombinasi berbagai intervensi: edukasi praoperasi, optimasi nutrisi, pengurangan stres pembedahan, manajemen nyeri, mobilisasi dini, nutrisi dini, pencegahan komplikasi, dan perencanaan pulang. Kehlet dan Wilmore menegaskan bahwa keberhasilan fast-track surgery membutuhkan reorganisasi tim perioperatif yang melibatkan anestesiolog, dokter bedah, perawat, dan fisioterapis.
Dengan demikian, ERAS tidak mungkin berhasil bila satu profesi merasa paling dominan, sementara profesi lain hanya dianggap pelaksana instruksi. Dalam ERAS, setiap profesi memiliki kontribusi klinis yang saling tergantung. Dokter bedah menentukan strategi operatif dan kesiapan pembedahan; anestesi memastikan kontrol nyeri, cairan, suhu tubuh, dan stabilitas fisiologis; perawat menjaga konsistensi pathway di bangsal; ahli gizi memastikan kebutuhan nutrisi; fisioterapis mendorong mobilisasi dan pemulihan fungsi; farmasis mendukung keamanan obat; dan manajemen rumah sakit menyediakan sistem, data, pelatihan, serta sumber daya.
Ketika kolaborasi tidak setara, yang muncul adalah fragmentasi layanan. Edukasi pasien tidak konsisten, mobilisasi terlambat, nutrisi dini tidak berjalan, audit kepatuhan tidak dilakukan, dan pasien pulang tanpa rencana tindak lanjut yang memadai. Pada titik ini, ERAS hanya menjadi dokumen protokol, bukan perubahan nyata dalam pelayanan.
Data Menunjukkan: ERAS Efektif, tetapi Hanya Bila Dijalankan sebagai Sistem
Guideline ERAS untuk pembedahan kolorektal menegaskan bahwa ERAS adalah perubahan mendasar dalam perawatan perioperatif. Tujuannya adalah mengurangi respons stres akibat operasi, mempertahankan fungsi fisiologis pascaoperasi, dan mempercepat mobilisasi pasien. Guideline ERAS colorectal 2025 juga menempatkan edukasi pra-admisi, optimasi komorbid, skrining nutrisi, pencegahan mual-muntah, tromboprofilaksis, manajemen cairan, pendekatan bedah minimal invasif, dan mobilisasi pascaoperasi sebagai rangkaian elemen yang saling terkait, bukan tindakan terpisah.
Pengalaman internasional yang ditampilkan dalam materi ERAS World Congress juga memperlihatkan bahwa rumah sakit yang berhasil menerapkan ERAS tidak hanya mengandalkan guideline, tetapi juga membangun sistem. Di Tan Tock Seng Hospital, misalnya, implementasi ERAS pada bedah kolorektal dikaitkan dengan penurunan lama rawat dari 7 hari menjadi 5 hari, penurunan waktu siap pulang dari 11% menjadi 4,6%, serta penghematan biaya pasien. Materi yang sama juga menunjukkan bahwa desain bangsal ERAS dapat meningkatkan asupan oral hingga 3 kali, meningkatkan mobilisasi dini hingga 2 kali, dan menurunkan lama rawat inap hingga 50% pada tahun pertama implementasi desain bangsal ERAS.
Data tersebut memberi pesan penting: ERAS berhasil bukan karena satu tindakan, tetapi karena perubahan sistem layanan. Ada jalur pra-admisi, edukasi pasien, fisioterapi, koordinasi bangsal, follow-up pasca-pulang, audit, benchmarking, dan kepemimpinan program. Tanpa komitmen bersama antar profesi, elemen-elemen ini tidak akan berjalan konsisten.
Tantangan Indonesia: Komitmen Ada di Dokumen, tetapi Belum Selalu Hadir dalam Praktik
Di banyak rumah sakit, komitmen terhadap program baru sering tampak kuat di awal: ada peluncuran, seminar, SK tim, atau penyusunan SPO. Namun, komitmen sejati diuji setelah program masuk ke rutinitas harian. ERAS membutuhkan disiplin implementasi setiap hari, pada setiap pasien, dan pada setiap titik perjalanan perioperatif.
Tantangan paling nyata adalah ketidakkonsistenan kepatuhan. Misalnya, pasien sudah mendapat edukasi praoperasi, tetapi tidak dimobilisasi dini. Atau protokol nutrisi sudah dibuat, tetapi tidak dijalankan karena tidak ada koordinasi antara dokter, perawat, dan ahli gizi. Atau pasien dipulangkan lebih cepat, tetapi tidak ada follow-up terstruktur setelah pulang. Akibatnya, manfaat ERAS menjadi tidak optimal dan bahkan dapat menimbulkan persepsi keliru bahwa ERAS “tidak cocok” untuk konteks Indonesia.
Padahal, masalahnya mungkin bukan pada ERAS, melainkan pada lemahnya sistem implementasi. Materi peningkatan mutu rumah sakit menekankan bahwa program mutu harus memiliki masalah yang jelas, data awal, akar masalah, solusi yang realistis, implementasi nyata, indikator hasil, serta pembelajaran yang jujur. Prinsip ini sangat relevan untuk ERAS. Rumah sakit tidak cukup menyatakan “kami sudah menerapkan ERAS”, tetapi harus mampu menjawab: berapa persen pasien mendapat edukasi praoperasi, berapa persen mobilisasi dalam 24 jam, berapa lama median length of stay, berapa angka komplikasi, berapa angka readmisi 30 hari, dan apa hambatan implementasinya.
Kesetaraan Profesi adalah Kunci, Bukan Sekadar Nilai Etis
Kolaborasi setara dalam ERAS bukan hanya persoalan etika kerja tim, tetapi persoalan keselamatan pasien dan efektivitas klinis. Bila keputusan hanya berpusat pada satu profesi, maka informasi penting dari profesi lain dapat terabaikan. Perawat mungkin paling mengetahui hambatan mobilisasi pasien di bangsal. Ahli gizi memahami risiko malnutrisi yang tidak selalu tampak dalam visite singkat. Fisioterapis mengetahui keterbatasan fungsi pasien. Farmasis dapat mendeteksi risiko interaksi obat atau penggunaan opioid berlebihan. Keluarga memahami kondisi sosial pasien di rumah.
ERAS membutuhkan ruang komunikasi di mana semua pemberi asuhan dapat menyampaikan temuan dan rekomendasi secara setara. Kesetaraan profesi bukan berarti semua mengambil keputusan yang sama, tetapi setiap profesi diberi ruang profesional sesuai kompetensinya. Tanpa itu, ERAS akan terhambat oleh budaya hierarkis, miskomunikasi, dan rendahnya rasa memiliki program.
Materi ERAS World Congress menawarkan strategi TEAM: Team, Engagement, Audit, dan Method. Di dalamnya ditegaskan pentingnya tim lintas profesi, perawat sebagai koordinator ERAS, hubungan kerja organik, pelatihan berkelanjutan, audit interaktif digital, serta benchmarking internal dan eksternal. Strategi ini menunjukkan bahwa ERAS tidak akan bertahan bila hanya bergantung pada figur klinisi tertentu. ERAS harus menjadi budaya kerja bersama.
ERAS Harus Masuk ke Sistem Manajemen Mutu Rumah Sakit
Salah satu kesalahan implementasi ERAS adalah menempatkannya hanya sebagai program klinis unit bedah. Padahal, ERAS seharusnya menjadi bagian dari sistem manajemen mutu rumah sakit. Materi “ERAS dan Sistem Manajemen Mutu RS” menempatkan ERAS dalam tujuan besar: mutu naik, biaya turun. ERAS juga dikaitkan dengan tata kelola klinis, termasuk patient involvement, clinical audit, clinical effectiveness, education and training, risk management, staff management, dan penggunaan data/informasi.
Dengan memasukkan ERAS ke dalam sistem mutu, rumah sakit dapat memastikan bahwa implementasi tidak bergantung pada antusiasme individu. Program memiliki indikator, siklus evaluasi, rapat mutu, audit berkala, dukungan manajemen, serta tindak lanjut. Model for Improvement dan siklus Plan–Do–Study–Act/PDSA juga relevan untuk memulai ERAS secara bertahap, bukan langsung dalam skala besar tanpa kesiapan sistem.
Angka yang Seharusnya Menjadi Alarm bagi Rumah Sakit
Beberapa angka penting dapat menjadi dasar argumentasi bahwa ERAS layak menjadi prioritas:
| Data | Makna untuk implementasi ERAS |
| 74 RCT dan 9.076 pasien dalam meta-analisis JAMA Network Open | Bukti ERAS sudah luas dan tidak lagi terbatas pada studi kecil. |
| Penurunan lama rawat rata-rata 1,88 hari | ERAS berpotensi meningkatkan efisiensi tempat tidur dan biaya rumah sakit. |
| Risk ratio komplikasi 0,71 | ERAS berkaitan dengan penurunan risiko komplikasi pascaoperasi. |
| TTSH: lama rawat turun dari 7 hari menjadi 5 hari | Implementasi yang sistematis dapat menghasilkan dampak operasional nyata. |
| Aplikasi SERA: kepatuhan protokol 78,5% pada studi pilot 50 pasien | Digitalisasi sederhana dapat membantu pemantauan kepatuhan pasien. |
| Bangsal ERAS: asupan oral naik 3 kali, mobilisasi dini naik 2 kali, lama rawat turun 50% | Lingkungan fisik dan budaya bangsal berperan besar dalam keberhasilan ERAS. |
Angka-angka ini menunjukkan bahwa ERAS bukan wacana idealistik. ERAS memiliki potensi klinis dan manajerial yang kuat. Namun, angka yang baik hanya akan tercapai jika rumah sakit berani memperbaiki struktur kerja antar profesi.
Rekomendasi Opini: Apa yang Harus Dilakukan?
Pertama, rumah sakit perlu menetapkan ERAS sebagai program strategis mutu dan efisiensi, bukan sekadar proyek unit bedah. Harus ada dukungan direktur, komite mutu, komite medik, keperawatan, penunjang klinis, dan manajemen operasional.
Kedua, bentuk tim ERAS multidisiplin dengan koordinator yang jelas. Perawat koordinator ERAS dapat menjadi penghubung antar profesi, memastikan checklist berjalan, mengingatkan jadwal edukasi, mengumpulkan data, dan memfasilitasi komunikasi pasien-keluarga.
Ketiga, bangun forum kolaborasi setara. Rapat ERAS tidak boleh menjadi ruang instruksi satu arah. Setiap profesi harus membawa data dan masalahnya: bedah, anestesi, perawat, gizi, fisioterapi, farmasi, rekam medis, dan manajemen mutu.
Keempat, mulai dari pilot kecil berbasis PDSA. Misalnya, pilih satu jenis operasi dengan volume tinggi, ukur baseline, jalankan intervensi 3–6 bulan, audit mingguan, lalu evaluasi hasil. Jangan memulai terlalu luas tanpa kesiapan data dan tim.
Kelima, ukur kepatuhan proses, bukan hanya outcome akhir. Lama rawat dan komplikasi penting, tetapi rumah sakit juga harus mengukur apakah edukasi praoperasi dilakukan, nutrisi dini diberikan, pasien dimobilisasi, nyeri terkendali, dan follow-up pasca-pulang berjalan.
Keenam, libatkan pasien dan keluarga sebagai bagian dari tim pemulihan. ERAS tidak akan berhasil jika pasien hanya menjadi objek tindakan. Pasien dan keluarga perlu memahami target pemulihan, latihan, nutrisi, tanda bahaya, dan jadwal kontrol.
Penutup
Implementasi ERAS di Indonesia masih jauh dari harapan apabila pemberi asuhan tidak memiliki komitmen bersama dan tidak berkolaborasi dengan kesetaraan profesi. ERAS bukan sekadar protokol klinis, melainkan perubahan budaya pelayanan. Ia menuntut rumah sakit untuk bergerak dari kerja individual menuju kerja sistem; dari instruksi hierarkis menuju kolaborasi setara; dari klaim keberhasilan menuju data; dan dari pelayanan episodik menuju kesinambungan pemulihan pasien.
Bukti internasional sudah cukup kuat menunjukkan bahwa ERAS dapat menurunkan lama rawat, komplikasi, dan biaya. Tantangan Indonesia bukan lagi sekadar mengetahui manfaat ERAS, tetapi membangun komitmen kolektif agar setiap profesi merasa memiliki, menjalankan, mengukur, dan memperbaiki program ini secara berkelanjutan.
Dengan kata lain, ERAS tidak akan gagal karena konsepnya lemah. ERAS akan gagal bila sistem rumah sakit tidak siap berubah.
Bahan bacaan rujukan:
Amir, A. H., Davey, M. G., & Donlon, N. (2024). Evaluating the impact of enhanced recovery after surgery protocols following emergency laparotomy – A systematic review and meta-analysis of randomised clinical trials. American Journal of Surgery, 228(1), 000–000.
Davey, M. G., Donlon, N., Fearon, N. M., Heneghan, H. M., & Conneely, J. (2024). Evaluating the impact of enhanced recovery after surgery protocols on surgical outcomes following bariatric surgery: A systematic review and meta-analysis of randomised clinical trials. Obesity Surgery, 34(x), 000–000.
Feng, D., Liu, S., Lu, Y., Wei, W., & Han, P. (2020). Clinical efficacy and safety of enhanced recovery after surgery for patients treated with radical cystectomy and ileal urinary diversion: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Translational Andrology and Urology, 9(x), 000–000.
Gustafsson, U. O., Rockall, T., Wexner, S., How, K., Emile, S., Marchuk, A., … Hubner, M. (2025). Guidelines for perioperative care in elective colorectal surgery: Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) Society recommendations 2025. Surgery, 000, 109397.
Gustafsson, U. O., Scott, M. J., Hubner, M., Nygren, J., Demartines, N., Francis, N., … Ljungqvist, O. (2018). Guidelines for perioperative care in elective colorectal surgery: Enhanced Recovery After Surgery (ERAS®) Society recommendations: 2018. World Journal of Surgery, 42(3), 659–695.
Jain, S., Lamture, Y., & Krishna, M. (2023). Enhanced recovery after surgery: Exploring the advances and strategies. Cureus, 15(10), e000000.
Kehlet, H., & Wilmore, D. W. (2002). Multimodal strategies to improve surgical outcome. American Journal of Surgery, 183(6), 630–641.
Kehlet, H., & Wilmore, D. W. (2008). Evidence-based surgical care and the evolution of fast-track surgery. Annals of Surgery, 248(2), 189–198.
Ljungqvist, O., Scott, M., & Fearon, K. (2017). Enhanced Recovery After Surgery: A review. JAMA Surgery, 152(3), 292–298.
Meng, X., Chen, K., Yang, C., Li, H., & Wang, X. (2021). The clinical efficacy and safety of enhanced recovery after surgery for cesarean section: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials and observational studies. Frontiers in Medicine, 8, 715274.
Smith, T. W., Wang, X., Singer, M., Godellas, C., & Vaince, F. T. (2019). Enhanced recovery after surgery: A clinical review of implementation across multiple surgical subspecialties. American Journal of Surgery, 219(3), 530–534.