Malaria Belum Pergi: Yang Salah Bukan Hanya Nyamuknya
Kita terlalu sering membicarakan malaria seolah-olah ini hanya soal nyamuk, parasit, dan obat. Cara pandang itu terasa praktis, tetapi terlalu dangkal. Jika malaria masih bertahan sampai hari ini—di dunia, di Indonesia, dan terutama di Maluku—maka yang sedang kita hadapi bukan sekadar penyakit menular. Kita sedang berhadapan dengan persoalan lingkungan, ketimpangan wilayah, dan kegagalan menghadirkan layanan kesehatan yang benar-benar merata.
Di titik inilah malaria menjadi lebih dari sekadar isu medis. Ia adalah cermin. Cermin tentang bagaimana manusia hidup dengan lingkungannya, bagaimana negara membangun wilayahnya, dan bagaimana ketimpangan akhirnya masuk ke tubuh manusia dalam bentuk penyakit.
Dunia belum benar-benar menang melawan malaria. Jutaan orang masih hidup dalam risiko, dan ratusan juta kasus tetap tercatat dari tahun ke tahun. Fakta ini membongkar satu ilusi penting: kemajuan ilmu pengetahuan tidak otomatis berarti kemenangan kesehatan masyarakat. Kita boleh memiliki obat yang lebih baik, teknologi yang lebih maju, dan strategi pengendalian yang lebih canggih. Namun selama kondisi sosial dan ekologis yang menopang malaria tidak berubah, penyakit ini akan terus menemukan tempat untuk hidup.
Indonesia memperlihatkan pola yang sama. Kasus sempat turun, tetapi kemudian meningkat kembali. Artinya, keberhasilan nasional belum kokoh. Yang terlihat sebagai kemajuan di tingkat agregat sering menutupi kenyataan bahwa di banyak wilayah, malaria masih bertahan sebagai masalah sehari-hari. Jadi persoalannya bukan sekadar berapa angka nasional, melainkan di mana penularan masih hidup, siapa yang paling rentan, dan mengapa wilayah tertentu terus menjadi kantong masalah.
Dalam konteks itu, Maluku menjadi sangat penting untuk dibaca. Sebagai provinsi kepulauan, Maluku memperlihatkan dengan jelas bahwa malaria bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga persoalan geografis. Pulau-pulau yang tersebar, akses yang tidak selalu mudah, logistik yang sering terlambat, dan layanan kesehatan yang tidak selalu hadir dengan kecepatan yang sama menciptakan ruang bagi malaria untuk bertahan. Di wilayah seperti ini, satu keterlambatan kecil dapat berubah menjadi masalah besar.
Karena itu, membaca malaria di Maluku tidak cukup hanya dengan melihat angka kasus. Yang harus dibaca adalah ruang hidupnya. Malaria hidup di genangan air, di drainase yang buruk, di rumah yang tidak cukup terlindungi, di kawasan pesisir yang lembap, dan di wilayah yang terlalu lama menunggu layanan datang. Artinya, malaria tidak hanya hidup di tubuh manusia. Ia hidup di sekitar rumah, di sekitar kampung, dan di sekitar pola pembangunan yang belum cukup peka terhadap risiko lingkungan.
Di sinilah ilmu kesehatan lingkungan menjadi sangat penting. Penyakit seperti malaria tidak muncul sendirian. Ia lahir dari hubungan antara manusia dan lingkungannya. Maka ketika malaria terus muncul, sesungguhnya yang sedang kita lihat adalah lingkungan yang belum sehat dan sistem yang belum cukup kuat untuk melindungi masyarakat. Inilah sebabnya pendekatan medis saja tidak pernah cukup. Obat penting. Kelambu penting. Penyemprotan penting. Tetapi semua itu akan selalu terbatas bila drainase buruk, kualitas permukiman rendah, dan akses layanan tetap timpang.
Kesalahan terbesar selama ini adalah memakai logika yang sama untuk wilayah yang berbeda. Daerah daratan dan daerah kepulauan tidak bisa diperlakukan identik. Maluku membutuhkan strategi yang lebih peka terhadap fragmentasi ruang, keterisolasian pulau kecil, dan kebutuhan respon yang cepat. Yang harus diperkuat bukan hanya pusat kabupaten atau kota, tetapi justru titik-titik terjauh yang paling mudah luput dari perhatian.
Pada akhirnya, malaria belum pergi bukan karena kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita sudah cukup lama tahu. Yang belum selesai adalah keberanian untuk mengubah cara pandang. Selama malaria masih dibaca hanya sebagai urusan nyamuk dan obat, kita akan terus terlambat menyentuh akar masalahnya. Sebab malaria, pada dasarnya, adalah cermin dari hubungan yang belum sehat antara manusia, lingkungan, dan sistem pelayanan publik.
Bahan bacaan rujukan:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Annual malaria report 2022. Directorate General for Disease Prevention and Control.
Pemerintah Provinsi Maluku. (2024). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Maluku Tahun 2025–2045.
World Health Organization. (2024). World malaria report 2024.
World Health Organization. (2024). World malaria report: Country profile Indonesia.
World Health Organization. (2025). Malaria fact sheet.
Yusran, dkk. (2019). Trend of malaria cases in Maluku Province 2012–2016.