Global Health, Health Systems, Main Topic, Public Health

Hantavirus: Ancaman Zoonosis Senyap di Balik Kontak Manusia dan Rodensia

Mengenali risiko, gejala klinis, tanda bahaya, serta pentingnya pencegahan dini terhadap infeksi hantavirus yang jarang tetapi berpotensi fatal.

Hantavirus adalah kelompok virus zoonosis yang terutama ditularkan dari hewan pengerat ke manusia melalui inhalasi aerosol dari urine, feses, atau saliva rodensia yang terinfeksi. Infeksi hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama: Hantavirus Pulmonary/Cardiopulmonary Syndrome (HPS/HCPS) yang dominan menyerang paru dan jantung, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang dominan menyerang ginjal dan pembuluh darah. CDC menyebut hantavirus tersebar di dunia, terutama ditularkan oleh rodensia, dan sebagian besar tidak menular antarmanusia.

Epidemiologi, Incidence Rate, Prevalensi, dan Mortalitas

Secara global, infeksi hantavirus tergolong jarang, tetapi memiliki dampak klinis berat. WHO memperkirakan terdapat sekitar 10.000 hingga lebih dari 100.000 infeksi hantavirus per tahun di dunia, dengan beban terbesar di Asia dan Eropa. Di Asia dan Eropa, case fatality rate HFRS berkisar <1–15%, sedangkan di Amerika, HCPS/HPS dapat memiliki fatalitas hingga 50%.

Di Amerika Serikat, sejak surveilans dimulai pada 1993 hingga akhir 2023, CDC melaporkan 890 kasus hantavirus disease, terdiri dari 859 kasus HPS dan 31 kasus non-pulmonary hantavirus infection. Sebanyak 35% kasus berakhir dengan kematian, dan 94% kasus terjadi di wilayah barat Sungai Mississippi. Literatur klasik juga mencatat HPS sebagai bentuk yang lebih berat, dengan mortalitas sekitar 40% di Amerika.

Masa Inkubasi

Masa inkubasi biasanya 1–8 minggu setelah paparan, tergantung jenis hantavirus. Pada HPS akibat Andes virus dan Sin Nombre virus, studi klinis melaporkan median inkubasi sekitar 18–19 hari, dengan kisaran yang sering dilaporkan sekitar 9–33 hari, meskipun kasus tertentu dapat lebih panjang.

Gejala Umum dan Gejala Khas

Gejala awal biasanya tidak spesifik dan menyerupai infeksi virus lain, seperti:

  • demam,
  • nyeri otot,
  • sakit kepala,
  • lemas,
  • nyeri perut,
  • mual, muntah, atau diare.

Gejala khas yang perlu dicurigai sebagai HPS/HCPS adalah demam disertai riwayat paparan rodensia, kemudian berkembang cepat menjadi batuk, sesak napas, edema paru non-kardiogenik, hipotensi, syok, dan gagal napas. WHO menekankan bahwa diagnosis awal sulit karena gejalanya dapat menyerupai influenza, COVID-19, pneumonia virus, leptospirosis, dengue, atau sepsis.

Manifestasi Klinis

Pada HPS/HCPS, perjalanan penyakit dapat dibagi menjadi fase prodromal dan fase kardiopulmoner. Fase prodromal ditandai demam, mialgia, keluhan gastrointestinal, dan trombositopenia progresif. Fase kardiopulmoner biasanya dimulai dengan batuk dan sesak, kemudian cepat berkembang menjadi infiltrat paru bilateral, edema paru, hipoksemia, syok, dan asidosis laktat. Artikel Jonsson, Hooper, dan Mertz menjelaskan bahwa kematian pada HPS berat umumnya lebih sering disebabkan oleh syok kardiogenik daripada gagal napas murni.

Pada HFRS, manifestasi lebih dominan berupa demam, gangguan vaskular, hipotensi, perdarahan, proteinuria, dan gangguan ginjal hingga gagal ginjal.

Perubahan Laboratorium Klinis

Temuan laboratorium yang sering mendukung kecurigaan hantavirus, khususnya HPS, meliputi:

  • trombositopenia,
  • hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit,
  • leukositosis,
  • peningkatan neutrofil,
  • limfosit atipik/imunoblas pada apusan darah tepi,
  • peningkatan kreatinin atau gangguan fungsi ginjal pada HFRS,
  • asidosis laktat pada kasus berat,
  • hipoksemia pada fase kardiopulmoner.

Diagnosis dikonfirmasi melalui pemeriksaan IgM spesifik hantavirus, peningkatan titer IgG, RT-PCR pada fase akut, atau deteksi antigen hantavirus.

Foto Roentgen dan Interpretasi Radiologi

Pada HPS/HCPS, foto toraks dapat menunjukkan infiltrat interstisial atau alveolar bilateral, edema paru difus, dan efusi pleura kecil bilateral. Dalam artikel Jonsson dkk., gambaran radiologi pasien HPS pada fase kardiopulmoner memperlihatkan diffuse alveolar filling, efusi pleura bilateral kecil, dan ukuran siluet jantung normal; dalam beberapa jam pasien tersebut membutuhkan ventilasi mekanik dan ECMO.

Interpretasi radiologis penting: edema paru pada HPS umumnya bersifat non-kardiogenik, sehingga gambaran paru berat dapat terjadi tanpa pembesaran jantung yang bermakna.

Tanda Ancaman Nyawa

Tanda bahaya yang memerlukan rujukan segera ke fasilitas dengan ICU meliputi:

  • sesak napas progresif,
  • saturasi oksigen menurun,
  • takipnea berat,
  • hipotensi,
  • syok,
  • asidosis laktat,
  • edema paru progresif,
  • penurunan kesadaran,
  • oliguria atau gagal ginjal,
  • kebutuhan oksigen meningkat cepat,
  • tanda gagal jantung atau cardiac output rendah.

Pada HPS berat, perburukan dapat terjadi sangat cepat, bahkan dalam hitungan jam setelah fase kardiopulmoner dimulai.

Pencegahan

Pencegahan utama adalah mengurangi kontak manusia dengan rodensia. CDC menyatakan bahwa pengendalian rodensia merupakan strategi utama pencegahan HPS. Langkah praktis meliputi menutup celah rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, menghindari kontak dengan urine/feses/sarang tikus, serta membersihkan area terkontaminasi dengan cara aman. Jangan menyapu atau menyedot debu kotoran tikus secara kering karena dapat membuat partikel virus terhirup; area sebaiknya dibasahi/disinfeksi dahulu sebelum dibersihkan.

Dalam layanan kesehatan, risiko penularan antarmanusia secara umum rendah. Namun, Andes virus di Amerika Selatan merupakan pengecualian yang terdokumentasi dapat menular terbatas melalui kontak dekat dan lama, terutama pada kontak serumah atau pasangan intim. Laporan wabah Argentina selatan juga mendukung kemungkinan transmisi person-to-person pada Andes virus.

Terapi yang Paling Tepat

Tidak ada terapi antivirus spesifik yang terbukti menyembuhkan hantavirus dan tidak ada vaksin berlisensi luas untuk infeksi hantavirus. Terapi terbaik adalah deteksi dini dan perawatan suportif agresif, terutama pemantauan ketat fungsi napas, hemodinamik, jantung, dan ginjal.

Pada HPS/HCPS, tata laksana meliputi oksigen, monitoring ICU, ventilasi mekanik bila diperlukan, pemberian cairan secara hati-hati, vasopressor/inotropik bila syok, serta pertimbangan ECMO pada gagal napas atau syok berat di pusat yang memiliki fasilitas. Ribavirin pernah diteliti, tetapi pada HPS fase kardiopulmoner tidak menunjukkan manfaat klinis yang jelas; manfaatnya lebih mungkin bila diberikan sangat dini, dan bukti klinis kuat untuk HPS masih terbatas.

Kesimpulan: Hantavirus adalah infeksi zoonosis yang jarang tetapi berpotensi fatal. Kunci penanganan adalah mengenali riwayat paparan rodensia, mendeteksi gejala awal, memantau trombositopenia dan tanda kebocoran kapiler, serta merujuk cepat pasien dengan gejala respiratorik atau syok ke fasilitas ICU.